Kebakaran TPA Putri Cempo Berulang, WALHI Soroti Tata Kelola Sampah

Kawasan Urban 06 Sep 2026 19 kali dibaca
Gambar Artikel Proses pemadaman api di lokasi TPA Putri Cempo | (Dok. Pusdalops Kota Surakarta)

LingkariNews – Kebakaran hebat kembali melanda kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, pada Rabu (2/9/2026) malam.

Kebakaran di kawasan tersebut bermula dari Blok B dan merembet ke Blok D. Area pada titik awal kebakaran diperkirakan sekitar 100 meter persegi, sementara total lahan yang terdampak mencapai sekitar 6 hektare.

Kebakaran TPA Putri Cempo bukan kali pertama terjadi. pada 2023, kawasan tersebut juga mengalami kebakaran. Sepanjang 2026, kebakaran sebelumnya dilaporkan terjadi pada 6 dan 10 Juni.

Kebakaran TPA Putri Cempo Bukan Sekadar Dampak Kemarau

Selama ini, kebakaran di TPA Putri Cempo kerap dikaitkan dengan faktor cuaca, terutama suhu tinggi dan musim kemarau. Namun, WALHI Jawa Tengah menilai persoalan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor musim.

“Alih-alih menempatkan musim kemarau sebagai dugaan dan penjelasan tunggal atas berulangnya kebakaran, kami justru melihat persoalannya jauh lebih mendasar,” terang Deputi Direktur WALHI Jawa Tengah, Nur Cholis.

Menurut WALHI Jawa Tengah, terdapat faktor ekologis dan persoalan tata kelola yang turut meningkatkan risiko kebakaran di TPA Putri Cempo.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta sebelumnya menyatakan praktik open dumping di TPA Putri Cempo menghasilkan emisi metana yang berpotensi memicu kebakaran, terutama saat musim kemarau. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surakarta pernah menyebut kebakaran di TPA Putri Cempo sebagai persoalan laten karena berulang hampir setiap musim kemarau.

Timbulan Sampah Kota Surakarta dan Ancaman Metana

Berdasarkan data dari laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, timbulan sampah di Kota Surakarta mencapai 421,48 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sampah yang terkelola tercatat sebanyak 49,73 ton per hari atau 11,80 persen. Sementara itu, sebanyak 371,75 ton per hari atau 88,20 persen merupakan sampah yang tidak terkelola. 

Kondisi timbulan sampah tersebut menjadi bagian dari persoalan yang disoroti WALHI dalam melihat risiko kebakaran di TPA Putri Cempo.

Pengampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, Wahyu Eka Styawan, mengatakan simulasi emisi metana menggunakan metode First Order Decay (FOD) dari IPCC menunjukkan tingkat akurasi sekitar 75 persen dengan tingkat kepercayaan menengah. Simulasi tersebut memiliki keterbatasan karena data historis timbulan sampah di TPA Putri Cempo terbatas.

Berdasarkan simulasi tersebut, TPA Putri Cempo menerima timbulan sampah sebesar 153.360,91 ton pada 2024. Jumlah tersebut menghasilkan meta kotor (CH4) sekitar 840,36 ton dan meta bersih 756,32 ton, atau setara dengan 20.420,65 ton CO2 ekuivalen.

Pada 2025, timbulan sampah diperkirakan mencapai 153.840,85 ton. Jumlah tersebut menghasilkan metana kotor sebesar 1.117,07 ton dan metana bersih 1.005,36 ton, atau setara dengan 27.144,83 ton CO2 ekuivalen.

“Secara garis besar, kita dapat melihat bahwa potensi akumulasi metana di TPA Putri Cempo relatif tinggi dan menjadi ancaman serius. Ini baru berdasarkan data awal dan belum merupakan kajian yang mendalam. Jika dilakukan pengukuran berdasarkan kedalaman timbunan sampah yang ada, sangat mungkin jumlah metana yang dihasilkan jauh lebih besar. Artinya, TPA Putri Cempo adalah bom waktu yang sewaktu-waktu dapat kembali memicu kebakaran. Risiko ini akan terus meningkat apabila upaya pengurangan sampah dari sumbernya tidak dijalankan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” tegas Wahyu.

WALHI menilai musim kemarau tidak semestinya menjadi satu-satunya penyebab berulangnya kebakaran di TPA tersebut. Suhu tinggi dapat menjadi pemicu, tetapi timbunan sampah dalam jumlah besar, proses pembusukan yang menghasilkan gas metana, akumulasi panas di dalam timbunan, serta persoalan sistem pengelolaan sampah dinilai saling berkaitan dalam meningkatkan risiko kebakaran.

WALHI Dorong Perubahan Sistem Pengelolaan Sampah

WALHI menilai kebakaran TPA Putri Cempo merupakan bagian dari persoalan tata kelola sampah yang lebih luas. Karena kebakaran terus berulang, evaluasi dinilai tidak cukup hanya berfokus pada proses pemadaman dan penanganan ketika kebakaran terjadi.

WALHI mendorong pemerintah melakukan perubahan dalam sistem pengelolaan sampah untuk mengurangi risiko kebakaran yang berulang.

“Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Kota Surakarta, perlu segera melakukan transformasi pengelolaan TPA menuju sistem controlled landfill, mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, menjalankan transisi pengelolaan sampah yang adil dengan melibatkan pekerja sektor informal, serta memastikan seluruh kebijakan dan implementasinya berjalan secara konsisten. Jika langkah-langkah tersebut tidak dilakukan, bencana seperti ini akan terus berulang,” tutup Wahyu.

(NY)

Sumber 

https://www.walhi.or.id/tpa-putri-cempo-terbakar-lagi-sampah-api-dan-risiko-yang-terus-diderita-warga

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-