LingkariNews — Kantong kresek sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas belanja sehari-hari masyarakat Indonesia. Data Making Oceans Plastic Free pada 2017 menyebut, rata-rata 182,7 miliar kantong plastik digunakan di Indonesia setiap tahunnya. Jika dihitung, jumlah tersebut setara dengan lebih dari 500 juta kantong setiap hari atau sekitar 347,6 ribu kantong setiap jam.
Dari banyaknya penggunaan kantong kresek, kresek hitam jadi jenis yang paling sering digunakan masyarakat. Survei Jakpat menunjukkan, 26,95% responden paling sering menggunakan kantong berwarna hitam. Namun, kresek hitam justru lebih berbahaya dibandingkan jenis kresek lainnya. Kenapa demikian?
Kenapa Kantong Kresek Hitam Lebih Berbahaya?
Pada dasarnya, sebagian besar kantong kresek merupakan hasil daur ulang plastik bekas. Bahan bakunya bisa berasal dari limbah wadah bekas produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida. Proses pembuatannya pun melibatkan bahan kimia yang berpotensi membahayakan kesehatan. Artinya, kantong plastik pada dasarnya tidak aman digunakan terutama sebagai wadah makanan. Tapi, apa yang membuat kresek hitam dianggap lebih berbahaya dibanding kresek warna lainnya?
Sebagian besar kresek hitam dibuat dari limbah plastik yang didaur ulang, dan umumnya sudah melalui proses daur ulang hingga 4-5 kali. Oleh karena itu, kresek hitam lebih berpotensi mengandung berbagai zat berbahaya.
Melansir laman Ecosistant, rata-rata kresek hitam terbuat dari bahan berbahaya yang mengandung bahan kimia beracun seperti brom, antimon, polivinil klorida, dan timbal. Zat-zat ini bisa larut saat terkena panas atau minyak, dan bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker.
Peneliti Bioplastik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Ghozali menyebut, kresek hitam merupakan jenis plastik yang lebih berbahaya dibanding kresek warna lain. Alasannya, kantong kresek hitam telah melalui banyak proses daur ulang sehingga telah tercampur berbagai zat kimia berbahaya.
Dampak pada lingkungan
Selain berbahaya bagi kesehatan, kantong plastik juga dapat mencemari lingkungan. Dalam proses produksinya, sejumlah bahan kimia berbahaya seperti zat neurotoksik, karsinogenik hingga pengganggu hormon dapat terlepas ke lingkungan sekitar pabrik.
Penggunaan kantong kresek yang masif juga menghasilkan timbulan limbah dalam jumlah besar. Sekitar 347,6 ribu kantong digunakan setiap jam dan sebagian besar berakhir menjadi limbah setelah digunakan. Hal ini membuat kantong plastik menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar di lingkungan. Terlebih, kantong plastik sulit terurai. Studi menyebut butuh 10 hingga 1.000 tahun bagi sampah plastik untuk dapat terurai.
Tips Mengurangi Penggunaan Kantong Kresek
Mengingat dampaknya yang sangat merugikan bagi kesehatan maupun lingkungan, sudah saatnya kita mengurangi ketergantungan pada kantong kresek. Beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan meliputi:
1. Tolak Kresek Sekali Pakai
Biasakan menolak kantong plastik sekali pakai saat berbelanja, terutama jika barang yang dibeli masih bisa dibawa tanpa kantong tambahan. Kebiasaan ini membantu mengurangi jumlah sampah plastik yang dihasilkan setiap hari.
2. Bawa Kantong Belanja Berkelanjutan
Gunakan tas belanja yang dapat dicuci dan dipakai berulang kali. Pilih tas berbahan kain atau material tahan lama agar tidak terus bergantung pada kantong kresek sekali pakai.
3. Gunakan Wadah Pakai Ulang
Bawa wadah sendiri ketika membeli makanan atau minuman untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik. Pilih wadah yang aman untuk makanan dan dapat digunakan berkali-kali.
4. Pilih Kresek yang Aman untuk Makanan
Jika terpaksa menggunakan kresek untuk wadah makanan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyarankan untuk memilih kantong berbahan HDPE, LDPE, Polietilen Tereftalat (PET), atau Polipropilen (PP). Pastikan kemasan kantong kresek mencantumkan logo tara pangan berupa simbol gelas dan garpu.
(KP/NY)
Sumber
https://www.wwf.id/en/blog/new-collaboration-manage-plastic-waste-jakarta-bogor-and-depok-cities
https://jakpat.net/info/hasil-infografis-penggunaan-kantong-plastik/