Dari Sampah Laut hingga Sedimentasi, BRIN Ungkap Persoalan Pesisir

Pesisir 08 Okt 2026 38 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Kemana sampah dari daratan pergi setelah masuk ke sungai? Mengapa sedimen menumpuk di satu wilayah pesisir, sementara kawasan lain justru mengalami erosi? 

Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari riset yang dilakukan Peneliti Pusat Riset Oseanografi (PRO) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitian ini melihat pergerakan material dari daratan hingga laut, termasuk sampah yang terbawa aliran sungai dan perubahan distribusi sedimen di pesisir.

92 Persen Sampah Berakhir di Pantai Indonesia

Peneliti PRO BRIN, Budhi Gunadharma Gautama, mengungkapkan persoalan sampah laut di Indonesia berkaitan dengan aliran sungai. Sampah yang berasal dari daratan dapat terbawa melalui sungai-sungai besar hingga masuk ke laut dan kemudian terakumulasi di sejumlah kawasan pesisir. 

“Berdasarkan model simulasi yang digunakan dalam penelitian, sebanyak 92% aliran sampah berakhir di pantai Indonesia. Akumulasi sampah tersebut cukup tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa dan Bali,” ujar Budhi saat memaparkan hasil pemodelan mengenai pergerakan sampah laut dalam forum Oceanology Talks Series IX yang diselenggarakan secara hybrid di KST Apriliani Soegiarto BRIN, Senin (5/10). 

Menurut hasil pemodelan tersebut, sejumlah titik di pesisir Jawa menjadi lokasi akumulasi sampah. Jakarta dan Bali termasuk wilayah yang terdampak.

“Jawa ini ternyata terakumulasi di beberapa titik yang tinggi. Di Jakarta ya. Ini titik-titik yang di Pantai Indonesia yang banyak sampah-sampah ini terdampar. Bali juga salah satu daerah yang terdampak. Jadi, memang Indonesia sampahnya memang lebih banyak berkumpul di Indonesia sendiri,” lanjut Budhi.

Temuan ini membuat penanganan sampah laut tidak cukup hanya dilakukan setelah sampah masuk ke perairan. Budhi menilai pencegahan perlu dimulai dari daratan, terutama melalui pengelolaan sampah dan pengendalian alirannya menuju sungai.

“Pencegahan masalah sampah itu harus memang dimulai dari darat, dan jangan sampai dirilis ke laut,” katanya.

Model Riset untuk Melihat Pergerakan Pencemaran

Pemodelan yang digunakan dalam penelitian tidak hanya dapat digunakan untuk melihat pergerakan sampah laut. Menurut Budhi, simulasi pergerakan partikel juga berpotensi digunakan untuk memperkirakan penyebaran berbagai bentuk pencemaran di laut, termasuk tumpahan bahan berbahaya. 

Model tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah dan pola penyebaran material pencemar. Informasi ilmiah semacam ini dinilai dapat mendukung penanganan pencemaran sekaligus penegakan hukum lingkungan.

Budhi mengatakan Indonesia telah memiliki perangkat regulasi yang cukup lengkap untuk menangani persoalan lingkungan. Tantangannya berada pada pengawasan, pembuktian ilmiah, dan konsistensi penegakan hukum.

Karena itu, penelitian berperan dalam menyediakan data dasar, bukti ilmiah, dan informasi yang dapat digunakan pemerintah maupun masyarakat dalam menangani kasus pencemaran lingkungan.

Sedimentasi Mengubah Kawasan Pesisir Bengkulu

Persoalan lain dibahas oleh peneliti PRO BRIN, Wahyu Budi Setyawan, melalui penelitian mengenai kawasan pesisir Bengkulu. Ia menyoroti sedimentasi yang berulang di alur pelabuhan dan dampaknya terhadap kawasan pantai di sekitarnya.

Perubahan pola transport sedimen menyebabkan material terus masuk ke alur pelabuhan sehingga memicu pendangkalan. Pada saat yang sama, terdapat wilayah yang mengalami erosi akibat berkurangnya suplai sedimen alami.

Perubahan distribusi sedimen tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pelabuhan. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kawasan pantai yang menjadi bagian dari aktivitas wisata dan sumber ekonomi masyarakat setempat.

“Kalau ini tidak ditangani, efeknya apa? Maka suplai sedimen ke pantai panjang pun akan terpengaruh,” kata Wahyu.

Riset untuk Memahami Persoalan Pesisir

Dua penelitian yang dipaparkan dalam Oceanology Talks tersebut menunjukkan keterkaitan antara proses di daratan sungai, laut, dan kawasan pesisir. Sampah laut dan sedimentasi tidak hanya muncul sebagai persoalan di perairan, tetapi juga berkaitan dengan proses yang terjadi sebelum material mencapai laut.

Pemahaman mengenai pergerakan material menjadi penting untuk melihat lokasi akumulasi, pola penyebaran, hingga dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.

Melalui riset kelautan dan oseanografi, data serta model ilmiah dapat menjadi dasar untuk memahami persoalan sampah laut dan sedimentasi pesisir serta mendukung perumusan kebijakan dan penanganannya.

(NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-