Foto: Instagram @/daryono_edukator_kebencanaan
LingkariNews – Perairan Masalembo kembali menjadi pembicaraan publik setelah KM Virgo Transport 8 tenggelam pada Minggu (13/9/2026) di kawasan tersebut. Peristiwa ini kembali mengarahkan perhatian pada perairan yang selama bertahun-tahun lekat dengan berbagai cerita mistis.
Perairan Masalembo berada di tengah Laut Jawa bagian timur, di sebelah utara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kawasan ini kerap dikaitkan dengan mitos dan bahkan disebut sebagai “Segitiga Bermuda Indonesia”, karena sejumlah kecelakaan kapal yang pernah terjadi di sekitarnya.
Di balik berbagai cerita yang berkembang, Masalembo sebenarnya merupakan bagian dari sistem laut Indonesia dengan dinamika yang cukup kompleks. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa kondisi kawasan tersebut dapat dipahami melalui berbagai proses oseanografi dan meteorologi maritim.
“Masalembo memiliki dinamika oseanografi dan meteorologi maritim yang kompleks,” kata Daryono, menurut keterangan tertulisnya, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, kompleksitas tersebut tidak berarti Masalembo memiliki suatu fenomena misterius yang secara otomatis dapat menyebabkan kapal tenggelam. Risiko pelayaran terbentuk dari pertemuan berbagai faktor, baik yang berasal dari laut, atmosfer, kapal, muatan, maupun keputusan manusia.
Perairan Masalembo dan Dinamika Laut yang Kompleks
Masalembo tidak berdiri sebagai perairan yang terpisah dari sistem laut di sekitarnya. Kawasan ini terhubung dengan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar menjadi salah satu jalur penting Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang membawa massa air dari Samudra Pasifik.
Sementara itu, Laut Jawa dan Laut Flores dipengaruhi konfigurasi kepulauan, pasang surut, serta perubahan musim. Interaksi berbagai sistem tersebut membuat kondisi perairan Masalembo terus mengalami perubahan.
“Masalembo bukan sekadar tempat bertemunya tiga laut,” kata Daryono.
Di kawasan ini, perbedaan temperatur, salinitas, densitas, kedalaman, serta arah arus dapat membentuk struktur laut secara horizontal maupun vertikal. Perbedaan densitas antarlapisan air pada kondisi tertentu dapat menghasilkan stratifikasi laut dan shear arus.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan turbulensi, pencampuran massa air, hingga terbentuknya gelombang internal.
Namun, keberadaan berbagai fenomena itu tidak bisa serta-merta dijadikan penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali.
“Fenomena tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai penyebab kapal kehilangan daya apung atau kendali,” ucapnya.
Ketika Angin dan Gelombang Berubah
Dinamika Masalembo tidak hanya berlangsung di bawah permukaan laut. Atmosfer turut memainkan peran, terutama karena kawasan tersebut dipengaruhi sistem monsun Asia-Australia.
Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pembentukan serta pergerakan gelombang. Dalam kondisi tertentu, gelombang dari berbagai arah dapat bertemu dan membentuk cross-sea.
Fenomena ini dapat membuat gerakan kapal menjadi lebih kuat.
“Cross-sea dapat meningkatkan gerakan kapal, terutama rolling dan pitching,” ucap Daryono.
Gerakan tersebut juga dapat menambah beban dinamis pada struktur kapal selama pelayaran. Cros-sea sendiri tidak hanya tebentuk dari benturan angin dengan arus. Fenomena ini dapat muncul dari kombinasi gelombang lokal dan gelombang yang datang dari wilayah lain.
Kondisi atmosfer juga dapat berubah dengan cepat ketika cuaca konvektif berkembang. Laut yang hangat menyediakan uap air dan energi bagik atmosfer, meskipun kondisi itu tidak otomatis menghasilkan badai ekstrem.
Ketika awan Cumulonimbus berkembang kuat, hujan lebat, petir, downdraft, dan gust front dapat menyertai sistem tersebut.
“Perubahan angin dan gelombang mendadak dapat meningkatkan beban serta gerakan kapal,” jelas Daryono.
Dasar Laut Ikut Berperan
Ada pula faktor yang berada di bawah permukaan: batimetri atau bentuk dasar laut. Perubahan kedalaman dapat memengaruhi bagaimana gelombang bergerak melalui proses shoaling dan refraksi.
Ketika gelombang memasuki perairan yang lebih dangkal, kecepatannya dapat berkurang dan karakteristiknya berubah. Meski begitu, perubahan kedalaman tidak selalu membuat tinggi gelombang meningkat secara drastis.
“Besarnya perubahan berganting pada periode, arah gelombang, kedalaman, dasar laut, pasang surut, dan arus,” katanya.
Karena itu, kondisi laut yang berisiko di Masalembo tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu mekanisme. Ada banyak proses yang berlangsung bersamaan dan dapat saling memengaruhi.
Tenggelamnya KM Virgo Tak Bisa Dijelaskan dari Satu Faktor
Pada akhirnya, keselamatan pelayaran tidak hanya ditentukan oleh kondisi alam. Faktor kapal, muatan, awak, hingga keputusan navigasi turut menjadi bagian dari rangkaian yang menentukan risiko.
Dari sisi lingkungan, faktor yang perlu diperhatikan mencakup angin, gelombang, arus, pasang surut, cuaca konvektif, dan batimetri. Sementara dari sisi kapal, stabilitas, distribusi muatan, kondisi teknis, kemampuan manuver, serta kecepatan turut berpengaruh.
Dalam kondisi gelombang besar, rolling dan pitching dapat menjadi signifikan. Jika stabilitas kapal terganggu atau muatan bergeser, situasi dapat menjadi semakin serius.
Hal ini menjadi perhatian khusus pada kapal Ro-Ro karena kendaraan dan muatan yang dibawa perlu diamankan untuk menjaga stabilitas kapal.
Meski demikian, berbagai fenomena laut dan atmosfer yang dijelaskan tersebut bukan merupakan kesimpulan mengenai penyebab tenggelamnya KM Virgo Transport 8.
“Kontribusi masing-masing faktor harus dibuktikan melalui data dan investigasi kecelakaan,” ujarnya.
Menurut Daryono, kecelakaan kapal di Masalembo juga tidak dapat otomatis dikatikan dengan kondisi alam. Investigasi perlu melihat berbagai kemungkinan secara menyeluruh, termasuk cuaca, kondisi laut, kapal, muatan, stabilitas, mesin, navigasi, dan faktor manusia.
Dengan begitu, cerita tentang Masalembo sebagai wilayah mistis atau “kuburan kapal” tidak cukup untuk menjelaskan dinamika pelayaran di kawasan tersebut.
“Secara ilmiah, kawasan ini merupakan lingkungan laut yang dinamis dan kompleks,” ujarnya.
Laut Masalembo terus bergerak mengikuti interaksi antara laut dan atmosfer. Bagi pelayaran, perubahan itu menjadi kondisi yang perlu dipantau melalui informasi cuaca dan laut aktual, perencanaan perjalanan, kondisi kapal dan muatan, kesiapan awak, serta keputusan operasional.
“Masalembo bukan misteri, Masalembo adalah pengingat bahwa laut harus dipahami dengan sains dan dipantau dengan data,” ujarnya.
(NY)