Erupsi Gunung Semeru
LingkariNews — Sudah satu minggu Gunung Semeru menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Dalam sepekan terakhir, tercatat terjadi 53 kali erupsi Gunung Semeru dengan kolom abu teramati menjulang dari puncak kawah. Berikut perkembangan terkini aktivitas Gunung Semeru yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang.
Aktivitas Gunung Semeru dalam Seminggu Terakhir
Peningkatan aktivitas Gunung Semeru mulai terpantau sejak Senin (9/2/2026). Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami erupsi dengan kolom setinggi 900 meter di atas puncak. Aktivitas tersebut menjadi awal dari rangkaian erupsi Gunung Semeru dalam sepekan terakhir.
Pada Jumat (13/2/2026), Gunung Semeru mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan. Dalam sehari, terjadi lima kali erupsi dimana tiga di antaranya disertai luncuran awan panas guguran. Jarak luncur awan panas tercatat mencapai 2.500 hingga 3.000 meter dari puncak.
Pada Sabtu pagi (14/2/2026), Gunung Semeru kembali mengalami dua kali letusan. Erupsi pertama terjadi pukul 05.54 WIB dengan kolom abu kurang dari 2.000 meter. Sementara itu, erupsi kedua terjadi pada pukul 07.25 WIB dengan kolom abu mencapai 1.500 meter.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, menyebut kedua letusan pada Sabtu pagi juga disertai awan panas guguran. “Awan panas guguran pertama hingga sejauh 6 kilometer, sementara yang kedua berhenti di 4 kilometer ke arah Besuk Kobokan,” ujarnya.
Pada Minggu (15/2/2026), kembali terjadi erupsi gunung semeru pada pukul 14.34 WIB. Informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut visual letusan kali ini tidak terlihat. Meski demikian, seismograf merekam amplitudo maksimum dari erupsi tersbebut sebesar 23 milimeter dengan durasi 129 detik. Data ini menunjukkan tekanan di dalam kawah masih tinggi.
Sementara itu, pengamatan kegempaan selama rentang pukul 06.00–12.00 WIB mencatat ada 25 kali gempa letusan. Amplitudo berkisar antara 8–23 milimeter dengan durasi selama 67–146 detik. Aktivitas kembali berlanjut pada pukul 12.00–18.00 WIB dengan total 20 kali gempa letusan. Amplitudo gempa kali ini tercatat sebanyak 8–22 milimeter dengan durasi 72–124 detik.
Selain itu, terdeteksi ada dua kali gempa guguran dengan amplitudo 2–3 milimeter dan durasi 43–56 detik selama hari Minggu (15/2/2026). Tercatat pula ada lima kali gempa hembusan dengan amplitudo 2–6 milimeter dan durasi 38–66 detik.
Gunung Semeru Berstatus Siaga
Akibat aktivitas vulkanik yang intens dan fluktuatif, PVMBG menetapkan Gunung Semeru berstatus Level III atau Siaga. PVMBG pun mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak. Warga juga diminta menjauhi area tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan dengan jarak 500 meter untuk mengantisipasi awan panas susulan dan aliran lahar yang berpotensi meluncur hingga 17 kilometer dari puncak. Himbauan ini dikeluarkan menyusul rangkaian erupsi gunung semeru dalam beberapa hari terakhir, serta tingginya curah hujan yang dapat memicu banjir lahar dingin di alur sungai berhulu di puncak.
Isnugroho menjelaskan bahwa langkah mitigasi terus diperkuat untuk meminimalkan risiko bagi warga di sekitar kawasan rawan bencana. “Kami sudah melakukan pemasangan CCTV dan sirine sebagai early warning system (EWS), sehingga masyarakat yang mendengar sirine tersebut bisa melakukan evakuasi secara mandiri ke tempat yang aman saat bencana Semeru datang sewaktu-waktu,” ujarnya.
Statistik Erupsi Gunung Berapi di Tahun 2026
Melansir Databoks Katadata, Gunung Semeru menjadi gunung dengan aktivitas erupsi tertinggi sepanjang tahun 2026. Aplikasi MAGMA Indonesia mencatat ada 618 kejadian erupsi gunung berapi di Indonesia tahun ini. Dari jumlah tersebut, 320 di antaranya merupakan erupsi Gunung Semeru.
(KP/NY)