Meningkatnya suhu bumi secara ekstrem menjadi pemicu bencana banjir
LingkariNews — Sebanyak 99,34 persen bencana alam di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologis. Bencana hidrometeorologis merupakan jenis bencana yang dipicu oleh cuaca dan iklim. Hal ini disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi “Analisis Lingkungan Hidup Berkelanjutan: Perubahan Iklim di Indonesia 2024 dan 2025”.
Sepanjang tahun 2024, BPS mencatat ada 3.472 bencana yang terjadi di Indonesia. Dari jumlah itu, banjir mendominasi dengan 1.420 kejadian, disusul kebakaran hutan dan lahan (kahutla) sebanyak 973 kejadian, serta cuaca ekstrem 733 kejadian. Sementara itu, intensitas bencana yang tidak terkait faktor iklim relatif minim, yakni gempa bumi sebanyak 15 kejadian dan erupsi gunung berapi 8 kejadian.
Suhu Bumi Terus Meningkat
Perubahan iklim menjadi masalah global yang semakin nyata. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) bahkan memasukkannya sebagai salah satu dari tiga krisis besar dunia (Triple Planetary Crisis). Indikator paling jelas dari masalah ini adalah suhu rata-rata bumi yang terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan sepuluh tahun dengan suhu terpanas terjadi pada rentang 2015–2024, dengan 2024 tercatat sebagai yang terpanas.
Peningkatan suhu juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu rata-rata Indonesia pada tahun 2024 mencapai 27,5 derajat Celsius, lebih panas 0,8 derajat dibanding periode 1991–2020. Ini merupakan tahun terpanas sejak pencatatan suhu dilakukan di Indonesia.
Dampak Perubahan Iklim
Peningkatan suhu bumi yang ekstrem menyebabkan dampak nyata di berbagai sektor. Es kutub terus mencair hingga menyebabkan kenaikan permukaan air laut hingga sekitar 10–25 cm. Hal ini meningkatkan risiko abrasi, banjir pesisir, serta tenggelamnya berbagai kota pesisir. Di Indonesia, lonjakan panas memicu mencairnya salju abadi di Pegunungan Jayawijaya untuk pertama kalinya.
Perubahan iklim juga menyebabkan perubahan musim yang tak menentu, peningkatan suhu, dan memicu cuaca ekstrem. Kondisi ini menyebabkan turunnya hasil pertanian pada berbagai komoditas seperti padi, tebu, jagung, kedelai, dan lainnya. Fenomena La Nina dan El Nino yang terjadi juga menyebabkan banjir dan kekeringan ekstrem di banyak wilayah.
Emisi Gas Rumah Kaca Dorong Perubahan Iklim
Salah satu pemicu utama perubahan iklim global adalah emisi gas rumah kaca yang terus meningkat. Emisi gas menahan panas matahari di atmosfer sehingga meningkatkan suhu rata-rata bumi. Hal ini memicu cuaca ekstrem, perubahan musim, dan kenaikan permukaan laut. Ironisnya, sebagian besar emisi gas rumah kaca disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, aktivitas industri, transportasi, atau pembukaan lahan skala besar.
Laporan Joint Research Centre 2025 mencatat produksi emisi gas rumah kaca global pada 2024 mencapai 53,21 gigaton karbon dioksida ekuivalen (Gt CO₂e), naik 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia menempati posisi keenam sebagai penghasil emisi terbesar dunia. Total emisi gas rumah kaca Indonesia pada 2024 mencapai 1,36 juta gigagram CO₂e, setara 2,49 persen dari total emisi global.
Tingginya emisi gas rumah kaca Indonesia disebabkan alih lahan yang masif. Katadata Insight Center mencatat pembukaan lahan sawit telah menyebabkan hilangnya sekitar 498 ribu hektar hutan di indonesia setiap tahun. Degradasi lahan gambut serta kebakaran hutan yang masih sering terjadi turut memperbesar pelepasan emisi ke atmosfer. Indonesia yang juga menjadi produsen minyak sawit utama sekaligus eksportir batu bara terkemuka turut membuat Indonesia sangat bergantung pada aktivitas berbasis karbon.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu memperkuat kolaborasi dalam pengendalian emisi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan meliputi transisi energi bersih, perlindungan hutan, dan pemulihan gambut. Tata kelola lahan juga harus diperketat guna mencegah kahutla kembali terjadi. Disisi lain, pemerintah perlu mendorong industri untuk beralih ke teknologi rendah karbon guna menekan emisi secara berkelanjutan. Tanpa langkah-langkah yang tegas, perubahan iklim akan semakin parah dan risiko bencana hidrometeorologis di Indonesia kian meningkat.
(KP/NY)
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/31/d42f7c887f4ab83b80908148/sustainable-environment-analysis--climate-change-in-indonesia-2024-and-2025.html
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/climate-change-and-health
https://edgar.jrc.ec.europa.eu/report_2025