LingkariNews — Kamis (12/2/2026), lima daerah di Provinsi Riau terpantau mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lima wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten Pelalawan, Bengkalis, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, dan Siak. Cuaca panas diduga menjadi pemicu cepatnya penyebaran api, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar.
Kebakaran hutan memang menjadi persoalan serius yang tengah dihadapi Riau. Berdasarkan sistem pemantauan SiPongi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per Kamis (12/2/2026) pukul 11.47 WIB, terdeteksi ada 466 titik panas di Indonesia dalam 24 jam terakhir. Riau jadi daerah dengan jumlah karhutla tertinggi dengan 264 titik. Angka itu jauh melampaui Kalimantan Barat yang berada di posisi kedua dengan 75 titik.
Bengkalis Catat Luasan Karhutla Terbesar
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Riau, kasus karhutla telah terjadi di 10 kabupaten/kota sejak awal tahun. Total luasannya diperkirakan mencapai 182,76 hektare. Selain lima daerah yang telah disebutkan sebelumnya, kebakaran juga telah terjadi di Kepulauan Meranti, Kampar, Kuantan Singingi, Kota Dumai, dan Pekanbaru.
Kabupaten Bengkalis menjadi daerah dengan luasan terbakar terbesar, yakni 65,51 hektare. Sebagian besar lahan yang terbakar merupakan kebun sawit dan kebun karet. Menurut penuturan warga Desa Tameran yang jadi lokasi kebakaran, Kecamatan Bengkalis, titik api disebut sudah muncul sejak awal Februari 2026. Namun hingga Kamis (12/2/2026), api belum juga padam. “Sudah dua pekan berlalu. Tak ada polisi dan tak ada petugas. Kami butuh air,” ujar seorang warga setempat dalam live media sosial.
Pemprov Riau Tetapkan Status Siaga Darurat
Merespons peningkatan kasus karhutla di daerahnya, BPBD Provinsi Riau menggelar rapat koordinasi lintas sektor membahas perkembangan terkini titik api. Rapat turut dihadiri perwakilan TNI dan Polri, jajaran Kodam, Polda, Polres, Lanud, Manggala Agni, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera, serta institusi terkait lainnya. Dalam forum itu, disepakati bahwa Riau telah memenuhi kriteria penetapan status siaga darurat karhutla.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau, Jim Ghafur, mengatakan pemprov telah menerima SK penetapan siaga darurat dari Kabupaten Pelalawan. Hal itu bisa menjadi dasar penetapan status siaga darurat provinsi. Selanjutnya, hasil rapat akan dilaporkan kepada Pelaksana Tugas Gubernur Riau sebagai bahan pertimbangan. “Hasil rapat ini akan kami sampaikan sebagai rekomendasi penetapan status siaga darurat karhutla sesuai kondisi lapangan. Terkait waktu pemberlakuannya menjadi kewenangan gubernur,” tutupnya.
Jim Ghafur menargetkan status siaga darurat tingkat provinsi dapat disahkan pekan ini. Penurunan curah hujan dan peralihan musim panas disebut menjadi faktor utama yang dipertimbangkan dalam penetapan ini. Jim Ghafur juga menyebut bahwa penetapan ini jadi langkah penting agar Riau bisa mendapat bantuan dari pusat dalam menangani karhutla.
"Jika status sudah ditetapkan, kami akan segera mengajukan permohonan bantuan ke pusat, terutama untuk dukungan helikopter pengebom air (water bombing), helikopter patroli, hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca," tambahnya.
Pemadaman Terkendala Cuaca dan Akses Air
Petugas gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan masyarakat peduli api mulai bergerak di sejumlah titik karhutla. Namun cuaca panas dan sulitnya akses ke sumber air membuat proses pemadaman sulit dilakukan. Meski demikian, Jim Ghafur memastikan bahwa langkah pemadaman terus dilakukan untuk mencegah api meluas.
“Petugas di lapangan terus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah api kembali menyala. Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung panas dan rawan memicu kebakaran,” katanya.
(KP/NY)