Ulva Lactuca, Selada Laut dari Pesisir yang Kaya Manfaat

Pesisir 29 Jun 2026 19 kali dibaca
Gambar Artikel Ulva lactuca sering disebut sebagai

LingkariNews — Di kawasan pesisir, ada sebuah alga hijau yang unik bernama Ulva lactuca. Berbeda dengan kebanyakan alga yang memiliki bentuk menyerupai benang dan bercabang-cabang, Ulva lactuca lebih mirip selada. Kemiripan fisiknya ini membuat Ulva lactuca sering disebut sebagai “selada laut”. Padahal secara taksonomi, spesies alga hijau ini tidak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan selada.

Mengenal Ulva Lactuca si “Selada Laut”

Ulva lactuca memiliki bentuk yang menyerupai daun selada dengan lembaran tipis, bergelombang, dan berwarna hijau cerah. Ukurannya dapat mencapai sekitar 30 sentimeter atau lebih dengan tekstur yang lembut dan lentur. Permukaannya tampak halus, sedangkan bagian tepinya tidak beraturan sehingga memberikan kesan menyerupai selada.

Selada laut banyak dijumpai di wilayah tropis yang kaya nutrien. Biasanya, spesies alga hijau ini hidup menempel pada batu, kayu, maupun substrat lain. Spesies ini mampu beradaptasi pada kondisi salinitas yang berbeda, termasuk di perairan payau sehingga penyebarannya cukup luas.

Dalam siklus hidupnya, Ulva lactuca dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Alga hijau ini juga mengalami metagenesis, yaitu pergiliran antara fase haploid dan diploid. Siklus tersebut membantu menjaga keberlangsungan populasi Ulva lactuca di alam. Dengan kemampuan reproduksi yang tinggi, alga ini dapat tumbuh kembali dengan cepat dan tetap bertahan ketika kondisi lingkungan mengalami perubahan.

Potensi Pangan dan Pakan

Sebagai alga, selada laut berperan sebagai produsen utama di perairan dangkal. Ulva lactuca juga berfungsi sebagai penyerap karbon biru serta pelindung alami garis pantai dari abrasi. Di sisi lain, tumbuhan ini memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang sehat.

Ulva lactuca punya kandungan nutrisi yang kaya meliputi serat tinggi, antioksidan, vitamin A, B, C, dan K, serta berbagai mineral dan asam lemak omega. Riset menyebut, Ulva lactuca mengandung 18% protein, 45% selulosa, 18% hemiselulosa, dan 20% lignin Rasyid (2017). Penelitian Kidgell et al. (2019) juga menunjukkan adanya kandungan sulfat, ramnosa, xilosa, dan asam uronat dalam jumlah yang signifikan. Hal ini menjadikan selada laut bisa menjadi sumber pangan yang kaya vitamin, mineral, serat, dan antioksidan.

Ulva lactuca juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang sehat dan ramah lingkungan. Penelitian Tomkins et al. (2009) dalam Dijkstra et al. (2018) menunjukkan, selada laut mampu menekan pembentukan gas metana pada ternak ruminansia. Efek ini berkaitan dengan penurunan aktivitas archaea metanogenik di saluran pencernaan, terutama pada enzim methyl-coenzyme M reductase. Selain meningkatkan asupan nutrisi ternak, pakan berbasis Ulva lactuca juga berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca.

Peluang Ekonomi Biru yang Belum Banyak Dilirik

Selain berbagai manfaat diatas, selada laut masih menyimpan potensi pemanfaatan lain yang cukup luas. Alga hijau ini dapat diolah menjadi pupuk organik hingga bahan baku farmasi berkat kandungan senyawa bioaktifnya. Ketersediaannya yang melimpah di wilayah pesisir serta pemanfaatannya yang masih terbatas membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya laut yang lebih berkelanjutan.

Selada laut juga tergolong mudah dibudidayakan dan berpotensi menjadi komoditas masa depan. Spesies alga ini dapat dibudidayakan di perairan dangkal dengan arus tenang serta cahaya matahari yang cukup. Pertumbuhannya yang relatif cepat dibandingkan beberapa jenis rumput laut lain membuatnya jadi salah satu sumber daya hayati yang layak dikembangkan.

Temukan artikel lain mengenai potensi sumber daya alam di LingkariNews.

(KP/NY)

Sumber 

https://kjif.unjani.ac.id/index.php/kjif/article/view/288/149 

https://www.kompasiana.com/erichintya23/6630fe5cde948f574130f292/potensi-selada-laut-ulva-lactuca-atasi-krisis-ketersediaan-bahan-pakan 

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-