Kondisi bendung katulampa | Sumber media cibubur
LingkariNews — Musim kemarau yang berkepanjangan membuat debit sungai Ciliwung di wilayah Bogor terus menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Permukaan air yang semakin rendah membuat bagian dasar sungai yang biasanya terendam air jadi terlihat. Batu-batu besar, lumpur, hingga tumpukan sampah di dasar sungai bisa dilihat dengan jelas dari permukaan. Sejumlah titik aliran Ciliwung di juga terpantau menyempit signifikan dibandingkan kondisi normal.
Aktivitas Warga di Sekitar Aliran Sungai Terganggu
Berkurangnya debit air membuat warga yang biasa memanfaatkan air Sungai Ciliwung untuk keperluan sehari-hari mulai kesulitan. Selama ini, warga mengandalkan aliran sungai untuk mencuci pakaian, mandi, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya. Namun, ketinggian air yang terus menyusut mengganggu aktivitas warga. Untuk mencuci pakain misalnya, warga harus melakukannya di bagian tengah sungai akibat tepi sungai yang mengering.
Penyusutan debit air juga menimbulkan masalah lain, yaitu menumpuknya sampah di sepanjang aliran sungai. Sampah yang biasanya terbawa arus kini mengendap dan menumpuk di dasar sungai yang mengering. Kondisi ini menimbulkan bau tidak sedap yang cukup mengganggu.
Ancaman Pasokan Air Bersih
Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, penyusutan debit Sungai Ciliwung juga menyebabkan berkurangnya pasokan air bersih bagi warga. Berdasarkan pemantauan, penyusutan debit air juga terpantau di Bendung Katulampa, Kota Bogor. Padahal, Bendung Katulampa menjadi salah satu sumber pasokan air baku yang dialirkan ke wilayah hilir.
Ketinggian air di Bendung Katulampa terpantau sempat mencapai 0 cm. Akibatnya, volume air yang dialirkan hanya sekitar 200 liter per detik, jauh di bawah kondisi normal. Penurunan volume aliran tersebut membuat pasokan air baku menuju instalasi pengolahan PDAM yang melayani wilayah Bogor, Depok, hingga Jakarta berkurang.
Kondisi ini membuat debit air dari PDAM ikut mengecil dan tidak mencukupi kebutuhan warga. Akibatnya, beberapa warga mengaku terpaksa membeli air atau meminta air dari tetangga yang masih memiliki cadangan.
BMKG Ingatkan Potensi Kemarau Panjang
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September. Itu artinya, kondisi kemarau masih bisa berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Kondisi ini berpotensi diperparah oleh fenomena El Niño yang memicu penurunan curah hujan secara signifikan. Akibatnya, musim kemarau jadi lebih panjang dan jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Situasi ini turut memengaruhi debit Sungai Ciliwung yang berpotensi terus menyusut. Menyikapi kondisi ini, warga diimbau untuk menerapkan perilaku hemat air secara ketat guna mengantisipasi krisis air bersih yang lebih luas.
Bukan Kejadian yang Pertama
Menyusutnya Sungai Ciliwung sejatinya bukanlah peristiwa baru. Fenomena ini merupakan masalah berulang yang hampir selalu terjadi setiap kali musim kemarau ekstrem.
Pada musim kemarau 2019, penurunan curah hujan di kawasan hulu Bogor menyebabkan debit air Ciliwung turun drastis. Aliran yang biasanya deras berubah menjadi sangat dangkal, sehingga batu-batu di dasar sungai terlihat. Kondisi tersebut mengganggu pasokan air baku bagi masyarakat yang bergantung pada aliran sungai.
Kejadian serupa kembali terulang pada tahun 2023, dimana fenomena El Niño kuat sempat menerjang kawasan hulu di Puncak, Bogor. Akibatnya, debit air turun drastis hingga membuat dasar Ciliwung terlihat selama beberapa pekan. Berulangnya kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyusutan debit Sungai Ciliwung bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan.
(KP/NY)