Buah pedada
LingkariNews — Tidak semua buah yang tumbuh di Indonesia akrab di telinga masyarakat. Salah satunya adalah buah pedada atau pidada, buah yang berasal dari ekosistem mangrove. Meski tak popular, buah ini menyimpan berbagai potensi, mulai dari kandungan senyawa yang bermanfaat hingga dapat diolah menjadi aneka produk bernilai ekonomi.
Keberadaan buah pedada menjadi salah satu bukti bahwa ekosistem mangrove tidak hanya berperan melindungi wilayah pesisir, tetapi juga menyimpan sumber daya hayati yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Apa Itu Buah Pedada?
Buah pedada merupakan buah yang berasal dari pohon pedada (Sonneratia caseolaris), salah satu jenis mangrove yang banyak tumbuh di wilayah pesisir dengan tingkat salinitas rendah, seperti muara sungai dan kawasan estuari.
Pohon pedada menghasilkan buah berbentuk bulat bewarna hijau yang akan berubah kekuningan saat matang. Rasanya cenderung asam sehingga jarang dikonsumsi secara langsung. Namun, di sejumlah daerah pesisir buah ini telah dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai olahan pangan.
Selain menghasilkan buah, pohon pedada juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem mangrove. Akarnya membantu menahan abrasi, melindungi garis pantai, sekaligus menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan, kepiting, burung, dan satwa pesisir lainnya.
Manfaat Buah Pedada bagi Kesehatan
Buah pedada diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, steroid, triterpenoid, dan karboksil benzena. Senyawa-senyawa tersebut memiliki sifat antioksidan yang dapat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas sekaligus mendukung daya tahan tubuh.
Mengutip laman Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR), buah pedada juga memiliki sifat antibakteri. Kandungan flavonoid di dalamnya diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri, termasuk Escherichia coli, sehingga ekstrak buah pedada dinilai berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan alami yang memiliki sifat antibakteri.
Tidak hanya itu, ekstrak buah pedada juga berpotensi dimanfaatkan sebagai antiseptik, membantu mengatasi keselo, serta membantu mencegah pendarahan.
Potensi Buah Pedada sebagai Produk Olahan Bernilai Ekonomi
Selain memiliki potensi bagi kesehatan, buah pedada juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk olahan berbasis mangrove.
Di berbagai daerah, buah pedada telah dimanfaatkan menjadi aneka olahan mangrove, seperti jus, sirup, dodol, hingga keripik. Beragam produk tersebut tidak hanya memperpanjang masa simpan buah, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis sumber daya lokal.
Menjaga Mangrove Berarti Menjaga Potensi Buah Pedada
Potensi buah pedada tidak dapat dipisahkan dari tumbuh dan tegaknya ekosistem mangrove. Jika hutan mangrove mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, pencemaran, atau penebangan, keberadaan pohon pedada pun ikut terancam.
Padahal, mangrove tidak hanya berfungsi melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan gelombang, tetapi juga menjadi rumah bagi berbagai tumbuhan dan satwa yang memiliki nilai ekologis maupun ekonomi. Buah pedada menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan hayati mangrove dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak alam.
Karena itu, menjaga ekosistem mangrove bukan hanya tentang melestarikan lingkungan, tetapi juga menjaga sumber daya hayati yang berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat. Semakin lestari hutan mangrove, semakin besar pula peluang untuk mengembangkan potensi buah pedada sebagai produk lokal yang bernilai sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.
(NY)
Sumber
https://fpk.unair.ac.id/potensi-antibakteri-dari-buah-pedada-sonneratia-caseolaris/