LingkariNews — Produksi gula Thailand diperkirakan anjlok hingga setidaknya 17% pada musim 2026-2027. Direktur Thai Sugar Millers Corp, Rangsit Hiangrat mengatakan produksi gula Thailand pada tahun 2026 diproyeksikan berada di bawah 10 juta ton. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan total produksi pada tahun sebelumnya yang mencapai 12 juta ton. Penurunan tersebut menambah tekanan terhadap defisit gula global yang kian melebar akibat kekeringan di sejumlah negara produsen utama.
Thailand merupakan negara eksportir gula terbesar kedua di dunia. Melansir worldstopexports.com, total ekspor gula Thailand pada tahun 2025 mencapai 5,5 juta ton. Angka tersebut hanya kalah dari Brasil yang mengekspor 33,7 juta ton gula. Dengan potensi penurunan produksi gula Thailand pada musim 2026-2027, pasokan gula global diperkirakan alami tekanan yang kian nyata.
Penurunan produksi gula Thailand disebabkan oleh fenomena El Nino yang memicu kondisi lebih kering di wilayah Asia Tenggara. Fenomena tersebut menyebabkan kekeringan di wilayah timur laut Thailand. Padahal, wilayah ini menyumbang sekitar 45% dari total produksi gula Thailand. Akibat kondisi ini, produktivitas tebu di wilayah tersebut mengalami penurunan dan berdampak pada total produksi Thailand.
Selain faktor cuaca, penurunan produksi gula Thailand juga disebabkan banyak petani yang beralih menanam singkong. Hal ini karena harga singkong relatif lebih tinggi dibandingkan gula. Banyak lahan yang sebelumnya ditanami tebu kini digunakan untuk menanam singkong. Kondisi ini semakin menekan pasokan gula Thailand dan berpotensi memperparah defisit gula global.
Selain Thailand, negara produsen utama seperti India juga terdampak fenomena El Nino. Curah hujan selama musim monsun di India lebih rendah dari kondisi normal. Kondisi tersebut berdampak pada hasil tebu di sejumlah wilayah.
Indian Sugar Mills Association memperkirakan produksi gula India pada musim giling 2026/2027 berada di kisaran 27,9 juta ton. Angka itu turun dari 28,3 juta ton pada musim 2025/2026. Jumlah tersebut juga masih di bawah kebutuhan konsumsi domestik tahunan India yang mencapai sekitar 28,5 juta ton.
Berkurangnya produksi gula di Thailand dan sejumlah negara produsen lain di Asia meningkatkan tekanan terhadap defisit gula global. International Sugar Organization memprediksi pasar gula dunia akan mengalami defisit sekitar 260.000 ton pada musim 2026/2027. Proyeksi tersebut menunjukkan pasokan global berpotensi lebih rendah dibandingkan kebutuhan. Proyeksi ini menandai pembalikan tajam dari surplus 1,1 juta ton pada musim 2025/2026.
Proyeksi defisit gula berdampak pada pergerakan harga gula global. Kontrak berjangka gula New York naik lebih dari 20% pada Agustus 2026. Lonjakan harga tersebut menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak 2010. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar atas ketatnya pasokan global akibat turunnya produksi gula di Thailand dan India.
Bagi Indonesia, kondisi ini patut diwaspadai. Sebagai negara pengimpor gula, kenaikan harga global berpotensi menekan biaya impor dan harga gula domestik. Diversifikasi sumber pasokan serta penguatan produksi gula dalam negeri menjadi langkah strategis untuk meredam dampaknya ke depan.
(KP/NY)
Sumber
https://www.worldstopexports.com/sugar-exports-country/