Mahasiswa UGM Sulap Limbah Ampas Tebu Jadi Pasir Kucing, Lengkap dengan Indikator pH Urine

Teknologi & Inovasi 16 Sep 2026 228 kali dibaca
Gambar Artikel 5 Mahasiswa UGM tim Felyhart | Dok. Humas UGM

LingkariNews – Di tangan lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), sisa ampas tebu tak hanya berakhir sebagai limbah produksi. Ampas tebu dikembangkan menjadi inovasi pasir kucing yang dilengkapi dengan indikator perubahan pH urine.

Inovasi bernama Felyhart ini ditujukan sebagai alternatif pasir kucing konvensional, seperti produk berbahan bentonite yang sulit terurai dan menghasilkan banyak debu. Dengan bahan dasar ampas tebu, tim berharap dapat memanfaatkan limbah yang belum termanfaatkan serta dapat menghasilkan pasir kucing yang lebih ramah lingkungan.

Felyhart dikembangkan oleh Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, dan Pratiwi Putri Hasibuan dari Fakultas Teknik, Rayhan Farel Ramadhani dari Fakultas Kedokteran Hewan, serta Humairo Labiiba dari Sekolah Vokasi. 

Penelitian tersebut didampingi Dr. drh. Madarina Wassisa, dosen Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan. Adapun penelitian yang dikembangkan berjudul “Felyhart: Inovasi Pasir Kucing Organik Antimikroba Penekan Transmisi Fekal-Oral dengan Indikator pH Urine Terintegrasi Sistem Pemantauan Kesehatan Digital”. 

Manfaatkan Ampas Tebu sebagai Bahan Pasir

Ide membuat Felyhart berawal dari persoalan pasir kucing konvensional yang sulit terurai. Tim juga melihat adanya potensi pertumbuhan bakteri ketika pasir menjadi lembap karena daya serapnya tidak optimal.

Kondisi tersebut kemudian mendorong tim mencari bahan alternatif. Ampas tebu dipilih sebagai bahan dasar pasir kucing karena lebih mudah terurai. Tidak hanya itu, pemanfaatan sisa limbah yang belum digunakan juga menjadi pertimbangan pengembangan inovasi tersebut.

“Dari situ, muncul gagasan untuk mengembangkan pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu yang lebih mudah terurai sekaligus membantu mengurangi limbah yang belum termanfaatkan,” ujar Arsi, Rabu (2/9). 

Pasir Berubah Warna Saat pH Urine Berubah

Yang membuat Felyhart berbeda adalah indikator pH alami yang tedapat pada pasir. Indikator ini memungkinkam pasir berubah warna sesuai dengan tingkat pH urine kucing.

Perubahan warna tersebut kemudian dapat dipindai melalui situs web yang dikembangkan oleh tim Felyhart. Sistem ini akan menganalisis warna pada gumpalan pasir dan memberikan informasi mengenai nilai pH urine.

Namun, hasil tersebut bukan diagnosis penyakit. Perubahan warna pasir hanya digunakan sebagai indikator awal perubahan pH urine.

Pemilik kucing tetap perlu memperhatikan perubahan perilaku hewan. Jika kucing mengejan saat berkemih, sering keluar-masuk kotak pasir, terlihat kesakitan saat berkemih, terdapat darah dalam urine, atau hanya mengeluarkan sedikit bahkan tidak dapat mengeluarkan urine, pemilik harus segera menghubungi dokter hewan.

Bukan Cuma Soal Pasir Kucing

Tak hanya ampas tebu, Felyhart juga menggunakan natrium propionat untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri pada pasir. Sebab, menurut dosen pendamping Felyhart, Dr. drh. Madarina Wassisa, kebersihan pasir juga berkaitan dengan risiko penularan penyakit yang berasal dari kontaminasi feses.

“Banyak penyakit yang penularannya berkaitan dengan kontaminasi feses. Dengan menjaga kebersihan pasir dan mengurangi kontaminasi, diharapkan rantai penularan penyakit dapat ditekan,” jelas Madarina.

Penggunaan Felyhart secara langsung juga mendapat tanggapan positif dari Kinar, salah seorang pengguna. Ia menilai pasir tersebut memiliki daya serap yang baik dan dapat membantu gumpalan yang lebih kering sehingga memudahkan proses pembersihan.

“Pasirnya bagus dan ternyata bisa menggumpal dengan baik. Gumpalan pasir Felyhart lebih kering sehingga lebih mudah dibersihkan,” ujar Kinar.

Menyasar Pemilik Kucing dan Peluang Pasar

Arsi menilai Felyhart memiliki potensi pasar seiring meningkatnya populasi kucing peliharaan di Indonesia dan tren pet parenting. Tren pet parenting, terutama di kalangan generasi muda perkotaan, turut membuat kebutuhan terhadap produk untuk hewan peliharaan semakin berkembang. 

Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan hewan juga mendorong minat terhadap produk yang menawarkan fungsi tambahan, bukan sekadar kebutuhan dasar.

“Dengan menyasar segmen pemilik kucing yang peduli terhadap kesehatan hewan sekaligus isu keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.

(NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Warga Sukatani Tolak Proyek Geotermal Gunung Gede Pangrango

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-