Hampir 80% Sungai di Bumi Kehilangan Oksigen Akibat Perubahan Iklim

Sungai 11 Jun 2026 34 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Sebanyak 78,8 persen sungai di dunia dilaporkan mengalami penyusutan kadar oksigen terlarut. Temuan yang dimuat dalam jurnal Science Advances pada 15 Mei 2026 ini didapat setelah tim peneliti menganalisis kondisi 21.439 titik aliran sungai di berbagai negara dalam empat dekade terakhir, yakni sepanjang 1985-2023. Melalui analisa menggunakan kecerdasan buatan, kadar oksigen terlarut di sungai-sungai dunia menyusut rata-rata 0,045 milligram per liter setiap dekade.

Tim peneliti menduga kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan iklim yang memicu pemanasan global. Air yang lebih hangat memiliki kemampuan lebih rendah untuk melarutkan oksigen. Ketika suhu sungai terus meningkat, pasokan oksigen di dalam air ikut berkurang. Pola tersebut ditemukan secara luas pada banyak sungai yang diamati dalam periode penelitian. Hasil studi menunjukkan, sekitar 62,7 persen dari total penurunan oksigen yang diamati disebabkan oleh peningkatan suhu. 

Ancaman bagi Ekosistem Sungai

Oksigen terlarut merupakan komponen penting bagi kehidupan ikan, serangga air, plankton, hingga mikroorganisme. Ketika kadar oksigen sungai turun, organisme yang hidup disana harus bekerja lebih keras untuk memperoleh oksigen. Dalam kondisi tertentu, hal ini bisa memicu sebagian spesies mengalami stres, pertumbuhan terhambat, bahkan kematian.

Berkurangnya populasi spesies tertentu kemudian dapat mengganggu rantai makanan di sungai. Predator kehilangan sumber pakan, sementara proses penguraian bahan organik menjadi kurang optimal. Kondisi ini dapat memicu penurunan kualitas air dan mengubah struktur ekosistem secara berkelanjutan.

Sungai Tropis Jadi Titik Paling Rentan

Peneliti juga mendapati bahwa sungai-sungai kawasan tropis di sekitar garis lintang 20 derajat Selatan hingga 20 derajat Utara menjadi wilayah yang paling rentan mengalami penurunan oksigen. Alasannya karena sungai tropis secara alami memiliki kandungan oksigen terlarut yang lebih rendah dibanding sungai di wilayah yang lebih dingin. 

Ketika perubahan iklim mendorong kenaikan suhu air, cadangan oksigen yang tersedia semakin berkurang. Akibatnya, sungai tropis lebih mudah mengalami bencana hipoksia. Bencana hipoksia adalah keadaan ketika kadar oksigen di perairan turun hingga tidak mencukupi kebutuhan organisme air untuk bertahan hidup.

Bukan Hanya Perubahan Iklim

Selain perubahan iklim, deoksigenasi sungai juga dipengaruhi oleh perubahan metabolisme ekosistem dan gelombang panas ekstrem. Perubahan metabolisme ekosistem diperkirakan berkontribusi sekitar 12 persen terhadap penurunan oksigen. Kondisi ini dipengaruhi oleh suhu, intensitas cahaya, dan aliran air. Ketiga faktor tersebut menentukan keseimbangan antara produksi dan konsumsi oksigen di dalam sungai. 

Sementara itu, gelombang panas ekstrem menyumbang sekitar 22,7 persen dari total deoksigenasi global. Peneliti mencatat, gelombang panas ekstrem yang semakin sering terjadi berkontribusi pada percepatan laju kehilangan oksigen hingga 0,01 miligram per liter setiap dekade dibanding kondisi rata-rata.

Peneliti juga menemukan adanya pengaruh debit aliran sungai yang cukup menarik. Pada kondisi aliran rendah maupun tinggi, laju deoksigenasi justru lebih rendah dibanding aliran normal. Aliran rendah tercatat memiliki laju deoksigenasi 18,6 persen lebih rendah, sedangkan aliran tinggi sekitar 7 persen lebih rendah. 

Selain itu, bendungan memberikan dampak yang berbeda pada setiap lokasi. Pada waduk dangkal, pembendungan cenderung mempercepat kehilangan oksigen. Sebaliknya, waduk yang lebih dalam dapat membantu menahan laju penurunan oksigen di perairan sekitarnya.

Ancaman yang Kian Nyata

Fenomena deoksigenisasi di sungai-sungai dunia diperkirakan akan menjadi tantangan lingkungan yang semakin serius pada masa mendatang. Tim peneliti memperkirakan, sungai-sungai di Amerika Timur hingga kawasan Amazon dapat kehilangan hingga 10 persen oksigen jika emisi karbon terus meningkat. Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi pada sungai-sungai di berbagai belahan dunia lainnya.

Jika hal tersebut terjadi, populasi ikan dan organisme sungai lainnya dapat menurun. Sementara itu, kualitas perairan terus memburuk. Jika tren ini berlanjut, kemampuan sungai dalam menopang keanekaragaman hayati akan semakin melemah. Oleh karena itu, para peneliti berharap temuan ini dapat meningkatkan perhatian terhadap dampak pemanasan global yang memicu penurunan oksigen di sungai-sungai dunia.

(KP/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-