Gletser di Pegunungan Alpen Menyusut Parah Akibat Pemanasan Global

Iklim 27 Okt 2026 12 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Gletser merupakan sumber cadangan air tawar terbesar di bumi. Gletser punya peran penting sebagai penyangga ekosistem sungai, sumber air minum penting bagi miliaran manusia di berbagai belahan dunia, serta pengatur keseimbangan iklim dan permukaan laut global.

Namun, gletser di Pegunungan Alpen, Swiss, tengah menyusut dengan level yang luar biasa. Sepanjang 2026, sekitar 5,5% gletser di Alpen telah menyusut. Ini merupakan penyusutan terbesar kedua sejak pemantauan pertama kali pada 1950. Penyusutan tersebut hanya lebih rendah dari rekor pada tahun 2022, ketika gletser Swiss kehilangan 5,9% volumenya.

Gelombang Panas dan Minimnya Salju Percepat Pencairan Gletser

Matthias Huss, Direktur Glacier Monitoring Switzerland (GLAMOS) menyebut penyusutan gletser di pegunungan Alpen dipicu oleh pemanasan global yang makin parah. Akibat gelombang panas yang mencapai puncaknya pada Mei–Juni, lapisan salju pelindung gletser yang terletak di ketinggian 3.500 mdpl telah hilang. Padahal secara historis, lapisan salju tersebut biasanya masih cukup tebal di setiap akhir musim panas.

Kondisi serupa terlihat di Gletser Tsanfleuron, dimana ketebalan lapisan salju telah berkurang hingga sekitar empat meter. Padahal, lapisan salju berfungsi melindungi permukaan es dari paparan sinar matahari. Ketika lapisan tersebut menghilang, es menyerap lebih banyak. Akibatnya, es gletser jadi lebih cepat mencair.

Akibat penyusutan yang sangat ekstrem, Huss menggambarkan 2026 sebagai tahun bencana. Volume gletser Swiss juga disebut telah berkurang hingga hampir 20% dalam lima tahun terakhir akibat dampak pemanasan global yang tak terkendali. 

Penyusutan Gletser Ancam Pasokan Air dan Picu Bencana

Berdasarkan perkiraan para ilmuwan, penyusutan gletser Pegunungan Alpen selama periode Juli-September menyebabkan hilangnya sekitar 2200 triliun liter air. Jumlah itu empat kali lebih besar dari konsumsi air minum tahunan seluruh rumah tangga Swiss.

Melelehnya gletser Pegunungan Alpen memang membantu memenuhi kebutuhan air saat musim panas. Namun, manfaat ini hanya bersifat sementara. Pencairan gletser yang masif sepanjang 2026 menguras cadangan yang tersimpan selama puluhan hingga ratusan tahun. Jika penyusutan gletser akibat pemanasan global terus berlanjut, krisis air berpotensi terjadi di masa depan.

Menyusutnya gletser juga membuat lereng pegunungan tidak stabil. Es menopang lereng dan menjaga batuan tetap membeku. Saat es mencair, penopang itu lenyap dan batuan mudah bergeser. Ketidakstabilan lereng ini meningkatkan risiko longsor serta banjir bandang. Longsoran dapat jatuh ke danau atau sungai, lalu memicu aliran deras ke permukiman di bawahnya.

Upaya Melindungi Gletser dari Dampak Pemanasan Global

Para peneliti menyebut, gletser Alpen sulit bertahan jika pemanasan global kian parah. Saat ini, para peneliti tengah mencari cara untuk memperlambat pencairan es. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyelimuti gletser dengan wol domba. Upaya ini disebut sebagai proyek “Keep It Wool”.

Metode ini tergolong baru dan belum pernah diterapkan sebelumnya. Namun, pengujian menunjukkan bahwa selimut wol mampu membantu mempertahankan suhu dingin di bawahnya. Serat wol dapat memerangkap udara dingin sekaligus menghambat masuknya udara hangat. Selimut wol juga membantu memantulkan radiasi matahari. Dengan begitu, es gletser terlindungi dari lonjakan suhu akibat pemanasan global sehingga tidak cepat mencair.

Meski efektif memperlambat pencairan gletser, metode ini hanya menjadi upaya pendukung. Upaya utama tetap harus diarahkan pada pengendalian pemanasan global. Pengurangan emisi gas rumah kaca, pembatasan penggunaan bahan bakar fosil, serta percepatan transisi menuju energi terbarukan perlu segera dilakukan untuk membatasi kenaikan suhu bumi. Tanpa upaya-upaya ini, perlindungan fisik seperti selimut wol tidak akan mampu menghentikan penyusutan gletser dalam jangka panjang.

(KP/NY)

Sumber

https://nsidc.org/learn/parts-cryosphere/glaciers/glacier-quick-facts

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Cerita Sejarah, Fakta Menarik, dan Peran Ekologis Sungai Brantas
5
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-