ilustrasi bangunan runtuh pasca gempa
LingkariNews — Sabtu (15/8) pagi, Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7. Guncangan dahsyat yang terjadi pada pukul 05.58 WITA ini turut dirasakan hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sebagian Sulawesi Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan episentrum gempa NTT berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.
Dua menit pascagempa besar terjadi, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami. Pemantauan di sejumlah wilayah pesisir mencatat tinggi muka laut mencapai sekitar 0,14 hingga hampir 1 meter di sejumlah wilayah pesisir. Peringatan dini tsunami kemudian dicabut pada pukul 07.30 WIB.
68 Orang Meninggal, Ribuan Warga Mengungsi
Akibat gempa NTT yang terjadi pada Sabtu pagi, sebanyak 68 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah. Tercatat sebanyak 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan. Puluhan sekolah, fasilitas kesehatan, dan kantor pemerintahan turut mengalami kerusakan. Lima bandara serta sejumlah sarana dan prasarana transportasi laut juga dilaporkan ikut terdampak.
Sementara itu, sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo terpaksa mengungsi akibat gempa. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, memastikan kebutuhan dasar pengungsi akibat gempa NTT di Kabupaten Manggarai terpenuhi. Sebagian bantuan telah dikirim dari Pos Logistik Nasional BNPB di Labuan Bajo menuju Kabupaten Manggarai melalui jalur darat.
Bantuan logistik dan peralatan dari Jakarta juga telah tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Selanjutnya, bantuan didistribusikan ke lokasi pengungsian. Pemerintah menargetkan ada lebih banyak tenda pengungsian yang bisa didirikan pada selasa malam (18/6).
Gempa Susulan Masih Berpotensi Terjadi
Meski gempa utama sudah terjadi pada Sabtu (15/8) pagi, ancaman gempa susulan masih perlu diwaspadai. BMKG mencatat hingga 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, telah terjadi 2.119 gempa susulan. Sebanyak 24 gempa susulan bahkan dilaporkan memiliki magnitudo di atas 5, dengan yang terbesar mencapai M 6,2. BMKG memprediksi rangkaian gempa susulan masih akan berlangsung hingga 3-4 pekan ke depan.
Pemerintah Dorong Pembentukan Satgas Daerah
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, yang meninjau lokasi pengungsian secara langsung meminta pemerintah daerah segera membentuk satuan tugas (satgas) daerah. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi penanganan warga terdampak gempa NTT yang tersebar di sejumlah titik.
Terkait dengan pemenuhan kebutuhan pangan pada pengungsi, BNPB telah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial untuk membangun dan mengelola dapur umum. BNPB juga berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk memperkuat pelayanan kesehatan warga terampak. Upaya tersebut meliputi penambahan tenaga kesehatan serta memastikan ketersediaan obat dan peralatan medis.
Salah Satu Gempa Terbesar Sepanjang 2026
Gempa M7,7 yang mengguncang NTT ini ternyata menjadi gempa dengan magnitudo terbesar kedua di dunia sepanjang tahun 2026. Gempa NTT hanya kalah dari gempa M7,8 yang mengguncang Filipina pada Juni lalu. Ini menunjukkan dahsyatnya kekuatan gempa yang mengguncang NTT beberapa waktu lalu.
Gubernur NTT Melki Laka Lena menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari. Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026 dan berlaku sejak 15 hingga 28 Agustus 2026. Melki menjelaskan, penetapan tersebut bertujuan untuk mempercepat penanganan dampak bencana gempa NTT. Kebijakan ini juga dibuat untuk mempermudah akses, koordinasi, dan komunikasi antarpihak dalam penanganan darurat.
(KP/NY)