Biji kelor berpotensi atasi mikroplastik di air minum
LingkariNews – Para peneliti dari São Paulo State University di Brasil menemukan, tanaman Moringa oleifera atau kelor berpotensi besar untuk mengurangi mikroplastik dalam air. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah American Chemical Society melalui jurnal ACS Omega.
Moringa merupakan tanaman yang berasal dari India dan tumbuh subur di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Selain dikenal sebagai bahan pangan bergizi, biji kelor kini semakin menarik perhatian untuk diteliti karena kemampuannya dalam pemurnian air, terutama dalam mengatasi pencemaran mikroplastik.
Kelor vs Bahan Kimia
Dalam penelitian tersebut, ekstrak garam dari biji kelor menunjukkan performa yang setara dengan alumunium sulfat, bahan kimia yang umum digunakan dalam pengolahan air. Bahkan pada kondisi air yang lebih basa, ekstrak kelor mampu bekerja lebih efektif dalam mengatasi mikroplastik.
Meski alumunium sulfat efektif, penggunaannya dapat meningkatkan kandungan bahan organik terlarut yang justru mempersulit pengolahan air. Sebaliknya, penggunaan kelor menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih ekonomis, terutama untuk skala kecil seperti di pedesaan atau komunitas terpencil.
Cara Kerja Koagulasi
Proses utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah filtrasi in-line, yaitu metode penyaringan air yang diawali dengan penambahan koagulan. Koagulasi berperan penting dalam mengatasi mikroplastik karena partikel mikroplastik memiliki muatan listrik negatif yang membuatnya sulit menggumpal dan tersaring.
Dengan penambahan koagulan seperti ekstrak biji kelor, muatan tersebut dinetralkan sehingga partikel mikroplastik dapat saling menempel dan membentuk gumpalan lebih besar. Gumpalan ini kemudian lebih mudah disaring melalui filter pasir.
Pendekatan ini sangat efektif untuk air dengan tingkat kekeruhan rendah, sehingga cocok diterapkan dalam sistem pengolahan air sederhana.
Uji Efektivitas
Dalam pengujian, para peneliti menggunakan mikroplastik jenis PVC (polyvinyl chloride), yang dikenala sebagai salah satu jenis plastik paling berbahaya bagi kesehatan manusia. Air yang telah terkontaminasi mikroplastik ini kemudian diproses menggunakan metode koagulasi dan filtrasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa baik ekstrak biji kelor maupun alumunium sulfat mampu mengurangi jumlah mikroplastik dengan tingkat efektivitas yang serupa. Analisis dilakukan menggunakan mikroskop elektron dan teknologi laser untuk memastikan jumlah serta ukuran partikel mikroplastik sebelum dan sesudah pengolahan.
Solusi Ramah Lingkungan
Penelitian lanjutan kini dilakukan pada air sungai alami, dan hasil awal menunjukkan bahwa metode ini tetap efektif dalam kondisi nyata. Hal ini memperkuat potensi kelor sebagai solusi berkelanjutan dalam mengatasi pencemaran mikroplastik.
Dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak kesehatan dari bahan kimia pengolahan air, seperti risiko toksisitas dan penyakit, penggunaan bahan alami seperti kelor menjadi semakin relevan. Selain memiliki nilai ramah lingkungan,metode ini juga mudah diterapkan dan terjangkau.
Pemanfaatan biji kelor dapat menjadi langkah inovatif dalam mengurangi mikroplastik di air minum, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan solusi sederhana, efektif, dan berkelanjutan.
(NY)
Sumber
https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260420014735.htm