pelapis kotak makanan dan minuman umumnya berbahan plastik
LingkariNews – Upaya mencari alternatif plastik kemasan terus berkembang di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak plastik bagi lingkungan dan kesehatan. Dalam industri makanan dan minuman, plastik masih menjadi pilihan utama karena praktis dan tahan air. Namun, bahan ini sulit terurai, menumpuk sebagai limbah, serta berpotensi mencemari rantai makanan melalui mikroplastik.
Sebagai alternatif, kemasan berbahan kertas mulai banyak digunakan, terutama untuk produk makanan dan minuman siap saji. Selain ringan dan mudah digunakan, kemasan kertas juga dinilai lebih terjangkau. Meski demikian, solusi ini belum sepenuhnya menjawab persoalan lingkungan.
Pasalnya, agar tahan terhadap air dan minyak, kertas umumnya dilapisi bahan tambahan. Pelapis yang digunakan saat ini masih berbahan plastik, seperti polyethylene, sehingga kemasan tetap sulit didaur ulang maupun dikomposkan. Selain itu, komponen plastik seperti plasticizer juga berpotensi berpindah ke dalam makanan dan minuman.
Melihat kondisi tersebut, Zatil Afrah Athaillah, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, mengembangkan pelapis kertas berbasis minyak nabati sebagai alternatif plastik kemasan yang lebih aman.
Penelitian yang dimulai sejak awal 2025 ini menguji sejumlah minyak nabati, seperti walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Hasil awal menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut mampu membentuk lapisan pelindung pada permukaan kertas, sehingga lebih tahan terhadap air dan minyak tanpa tambahan plastik.
Sementara itu, minyak lain seperti sawit dan zaitun juga diuji, tetapi belum menunjukkan hasil optimal karena masih memungkinkan terjadinya rembesan. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas bahan sangat bergantung pada jenis minyak yang digunakan.
Efektivitas pelapis diuji melalui berbagai metode, mulai dari pengujian sederhana dengan tetesan air dan minyak hingga analisis menggunakan mikroskop 3D. Dalam pengujian hingga 60 menit, kertas berlapis minyak nabati tidak menunjukkan tanda-tanda kebocoran.
Pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa air pada permukaan kertas berlapis membentuk butiran bulat, berbeda dengan kertas tanpa pelapis yang cenderung menyerap air. Kondisi ini menunjukkan sifat hidrofobik yang lebih baik.
Selain itu, analisis terhadap sifat material menunjukkan bahwa kertas tetap memiliki kekuatan dan kelenturan yang baik setelah dilapisi. Dalam beberapa kondisi, performanya bahkan lebih baik dibandingkan kertas tanpa pelapis.
Saat ini, hasil penelitian masih berupa lembaran kertas berlapis dan belum diaplikasikan ke produk seperti gelas atau wadah makanan. Meski demikian, metode ini telah memperoleh paten pada 2025, yang membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut.
Penelitian selanjutnya akan difokuskan pada uji sensori untuk memastikan bahwa lapisan tidak mempengaruhi rasa atau aroma minuman. Selain itu, peneliti juga mulai mengeksplorasi bahan alami lain, seperti lipid dari permukaan daun atau kulit buah.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, inovasi pelapis kertas berbasis minyak nabati dinilai berpotensi menjadi solusi dalam mengurangi ketergantungan pada plastik. Pendekatan ini sekaligus membuka peluang pengembangan sistem kemasan yang lebih aman dan ramah lingkungan.
(NY)
Sumber
https://www.brin.go.id/news/126366/kertas-berlapis-minyak-nabati-alternatif-ramah-lingkungan-untuk-kemasan-makanan