Kawasan hutan mangrove di Thailand
LingkariNews – Setiap tahunnya daratan di Distrik Phra Samut Chedi, kawasan pantai berlumpur di Teluk Thailand, terkikis ombak 20 hingga 60 meter. Salah satu dampak langsung yang dirasakan oleh warga setempat, yakni hilangnya mata pencaharian, tambak yang rusak akibat erosi. Hal ini turut memaksa banyak keluarga berpindah dari kawasan tersebut.
Ancaman erosi pantai yang semakin parah membuat warga pesisir mendesak adanya perlindungan yang cepat dan tangguh. Sebagaimana dilansir dari Mongabay, para peneliti Chulalongkorn University dan Kasetsart University di Bangkok, menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan sebuah inovasi dan teknologi akar mangrove buatan (artificial mangrove roots). Teknologi ini diharapkan mampu menjadi cara cepat untuk meredam gelombang sekaligus menahan laju erosi secara efektif.
Struktur Akar Mangrove Buatan
Akar mangrove buatan ini dirancang untuk meniru bentuk dan fungsi akar mangrove asli. Tiap unitnya memiliki batang utama dari bahan kayu sintetis dengan cabang-cabang karet yang menyebar ke luar untuk memecah kekuatan ombak. Unit-unit ini kemudian dipasang berderet sepanjang 50 hingga 120 meter di tepi pantai.
Keunggulan utama dari alat ini adalah strukturnya yang berpori. Berbeda dengan pagar bambu yang mudah rusak dalam dua tahun atau tanggul beton yang justru dapat memperparah erosi di sekitarnya. Inovasi akar buatan ini membuat air tetap mengalir sekaligus mengendapkan lumpur di dasar laut. Desainnya yang sederhana serta memanfaatkan bahan lokal, alat ini mudah diaplikasikan dan dapat dipasang di area pesisir hanya dalam waktu dua hingga empat minggu.
Hasil Uji Coba dan Manfaat Nyata
Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal Ocean & Coastal Management, uji coba selama 15 bulan di 11 lokasi menunjukkan hasil yang sangat baik. Sebanyak 10 lokasi berhasil mengumpulkan endapan lumpur setinggi 16 hingga 88 sentimeter. Sebaliknya, area pantai di sekitarnya yang tidak dipasangi akar buatan terus tergerus hingga lebih dari 10 meter.
Dengan adanya penumpukan lumpur, warga sekitar pun dapat merasakan langsung manfaatnya. Para peternak udang bisa membangun kembali tanggul tambak mereka yang sempat hancur diterjang ombak. Di tempat lain, pemilik tanah bahkan mulai bisa menanam kembali bibit-bibit mangrove alami di atas endapan lumpur baru tersebut.
Bukan Solusi Utama, Melainkan Penopang Sementara
Meski menunjukkan hasil yang bagus, para ahli mengingatkan agar teknologi ini tidak dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk semua wilayah pantai. Peneliti utama dari Chulalongkorn University, Butsawan Bidorn, menjelaskan bahwa keberhasilan alat ini sangat bergantung pada ketersediaan lumpur alami di perairan tersebut. Jika suatu wilayah tidak punya cukup pasokan lumpur, akar buatan ini tidak akan bisa membentuk daratan baru.
Hal senada disampaikan oleh Pakar Teknik Air Kasetsart University, Sompratana Ritphring. Ia menegaskan bahwa akar mangrove buatan hanya berfungsi sebagai penopang sementara. Tujuan utamanya adalah membantu menciptakan kondisi yang tenang agar hutan mangrove alami bisa tumbuh kembali secara mandiri, bukan untuk menggantikan peran hutan mangrove asli secara permanen.
Peluang Kerja Sama dan Penerapannya di Indonesia
Saat ini, tim peneliti masih terus menguji ketahanan bahan agar tidak menjadi sampah laut di kemudian hari. Selain memperluas uji coba di berbagai wilayah pantai di Thailand, inovasi ini juga telah menarik perhatian dari negara lain.
Riset ini membuka peluang kerja sama internasional, termasuk rencana uji coba dan penerapan teknologi akar buatan serupa di wilayah pesisir Indonesia yang memiliki masalah erosi dan pantai berlumpur yang sama.
(NY)
Sumber
https://news.mongabay.com/2026/10/artificial-mangrove-roots-offer-a-stopgap-for-thailands-eroding-coastline/