Perubahan Iklim Perlahan Menggeser Pusat Tutupan Hijau Bumi ke Timur Laut

Kehutanan 09 Mar 2026 42 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Hamparan hutan, padang rumput, dan pepohonan membentuk wajah hijau yang selama ini menghiasi bumi. Dari kejauhan, bentang alam itu tampak seperti selimut hijau yang menutup daratan. Namun bagi makhluk yang hidup di dalamnya, hamparan tersebut adalah ruang kehidupan. Vegetasi menopang ekosistem sekaligus menjadi sumber penghidupan manusia. Daun-daun yang rimbun menyaring udara, menyimpan air, dan meneduhkan kehidupan di bawahnya.

Namun hubungan manusia dan alam tidak selalu berjalan selaras. Aktivitas manusia justru semakin sering meninggalkan jejak kerusakan. Deforestasi, ekspansi lahan, serta emisi gas rumah kaca memicu perubahan iklim yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Perubahan ini turut menyebabkan pergeseran pusat tutupan hijau bumi.

Pusat Tutupan Hijau Bumi Bergeser

Layaknya timbangan yang memiliki titik tengah, vegetasi di bumi juga memiliki semacam titik keseimbangan. Para ilmuwan menyebutnya sebagai pusat tutupan hijau bumi atau center of global green cover. Secara sederhana, titik ini menggambarkan posisi rata-rata dari seluruh vegetasi yang tumbuh di planet ini. Melalui titik tersebut, ilmuwan dapat melihat bagaimana hutan, padang rumput, dan berbagai tutupan hijau tersebar di seluruh daratan.

Selama puluhan tahun, posisi keseimbangan vegetasi global relatif stabil. Titiknya berada di antara belahan bumi utara dan selatan. Artinya, distribusi vegetasi global cenderung berada pada pola yang tidak banyak berubah. Namun baru-baru ini, para peneliti dari Leipzig University menemukan bahwa titik keseimbangan itu secara perlahan bergeser ke arah timur laut dalam empat dekade terakhir.

Temuan tersebut diperoleh setelah ilmuwan menganalisis citra satelit jangka panjang yang merekam perubahan vegetasi global. Pada puncak musim panas, pusat tutupan hijau bumi bahkan tercatat bergerak sekitar 1,2-1,5 mil per tahun ke arah utara.

Dampak Perubahan Iklim dan Aktivitas Manusia

Pergeseran pusat tutupan hijau bumi menandakan adanya perubahan pada sebaran vegetasi global. Di sejumlah wilayah, tutupan hijau terus menyusut. Sementara di tempat lain, vegetasi justru bertambah atau berubah jenisnya. Perubahan ini membuat pusat tutupan hijau bumi perlahan bergeser. Peneliti menduga, fenomena ini berkaitan dengan perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Para peneliti menjelaskan, pergeseran vegetasi ke arah utara kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya emisi karbon dioksida di atmosfer. Gas rumah kaca yang kian menumpuk memicu pemanasan global. Suhu yang semakin hangat membuat wilayah di sisi utara bumi jadi lebih ramah bagi pertumbuhan vegetasi. Akibatnya, musim tanam di kawasan tersebut jadi lebih panjang, sementara musim dingin terasa lebih hangat. Kondisi ini membuat tanaman di belahan utara berkembang lebih luas dibanding sebelumnya. Sementara itu, tutupan vegetasi di wilayah yang sebelumnya menjadi pusat pertumbuhan justru terus berkurang.

Di sisi lain, ekspansi pertanian serta program reboisasi skala besar di sejumlah wilayah Asia membuat pusat distribusi hijau bumi bergerak ke arah timur.

Ancaman Bagi Keseimbangan Ekosistem

Menyusutnya tutupan vegetasi di sejumlah wilayah dikhawatirkan dapat mengurangi kemampuan ekosistem menyerap karbon dan mengatur siklus air. Risiko ini diperkirakan semakin terasa ketika musim panas menjadi lebih panas dan kering. Perubahan ini berpotensi mengganggu keseimbangan alam, mulai dari pola migrasi hingga rantai makanan berbagai spesies. 

Untuk memahami dampak jangka panjangnya, peneliti berencana menerapkan metode analisis serupa pada enam model iklim utama. Melalui pendekatan ini, peneliti

dapat memproyeksikan pergerakan pusat tutupan hijau bumi dalam beberapa dekade mendatang. Hasil proyeksi tersebut diharapkan dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana perubahan iklim membentuk kembali distribusi vegetasi global, sekaligus menjadi dasar penyusunan strategi konservasi yang lebih adaptif.

(KP/NY)