LingkariNews – Dalam satu dekade terakhir, Thailand konsisten melakukan transformasi pada industri gulanya hingga menjadi lima besar produsen gula dunia. Pada 2025, USDA mencatat Thailand memproduksi lebih dari 10 juta metrik ton, atau sekitar 6% dari total produksi global.
Kondisi tersebut ditopang oleh pengembangan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan industri gula Negeri 1000 Pagoda, dengan iklim kebijakan yang konsisten. Lalu, infrastruktur produksi gula apa saja yang telah dikembangkan di Thailand?
Ketua Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo), Syukur Iwantoro, menuturkan Thailand mengembangkan tanaman tebunya dengan sangat baik. Varietas tebu unggul dengan produktivitas rata-rata 80 ton/ha dan rendemen 10%–12%. Fakta itu merupakan hasil observasi Gapgindo saat melakukan studi benchmarking ke Thailand baru-baru ini.
“Sistem pemupukan di Thailand dilakukan secara presisi dan menyesuaikan varietas dan kebutuhan unsur hara di masing-masing wilayah. Bahkan, terdapat pabrik blending pupuk berskala besar yang secara khusus memproduksi formula pupuk untuk tanaman tebu,” ungkap Syukur di Jakarta (16/2).
Selain itu, Thailand juga membangun irigasi sederhana berbasis embung dan drip irrigation guna memastikan ketersediaan air tetap terjaga meski lahan berada di wilayah kering dengan suhu rata-rata mencapai 36 derajat Celcius. Hal ini menunjukkan cuaca panas dan kering tetap dapat diantisipasi dengan pemanfaatan teknologi yang tepat yang dapat dicontoh praktiknya oleh Indonesia.
Dari sisi sumber daya manusia, perusahaan-perusahaan produsen gula di Thailand merekrut tenaga teknis yang dilatih untuk membina petani mitra. Di Singburi misalnya, terdapat 146 pendamping yang melakukan pembinaan pada lebih dari 17.800 petani tebu.
“Petani diberikan pendampingan, sehingga tidak dilepas sendiri. Pendampingan teknis berjalan konsisten dan terstruktur. Aktivitas pendampingan ini menjadi pembeda signifikan dengan praktik-praktik budidaya tanaman tebu yang kita temui di dalam negeri,” ungkap Syukur.
Infrastruktur lainnya yang tidak kalah penting adalah jalan yang dibangun dengan mempertimbangkan kelancaran distribusi tebu ke pabrik sehingga kehilangan rendemen dalam perjalanan dapat diminimalkan.
Pemerintah Thailand dikenal konsisten dengan kebijakan penetapan harga tebu. Harga tebu berbasis rendemen ditetapkan dengan jelas pada Tingkat rendemen 10%. Jika rendemen lebih rendah, harga akan didiskon namun jika rendemen lebih tinggi, petani memperoleh insentif tambahan. Alhasil, skema ini membuat petani fokus meningkatkan kualitas tanamannya.
(DAZ/NY)