LingkariNews – Inovasi pertanian Model SILViE di perkenalkan kepada sejumlah anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) “Kapau Sakato” di Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dalam forum diskusi yang membahas praktik pertanian sehat dan ramah lingkungan.
Inovasi Model SILViE merupakan sebuah pendekatan berbasis riset yang dikembangkan Silvia, mahasiswi doktoral Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang sekaligus dosen Universitas Fort de Cock Bukittinggi.
Bagi Silvia, forum ini bukan sekadar penyampaian hasil penelitian akademik. Ia ingin menghadirkan ruang dialog antara ilmu pengetahuan dengan pengalaman nyata para petani perempuan di lapangan.
Model SILViE atau Strategi Inklusi Lingkungan via Ekofeminisme dikembangakan melalui metode riset dan pengembangan (RnD) dengan tahapan 4D, yakni Define, Design, Develop,dan Disseminate.
Di Kecamatan Baso, konsep tersebut diterapkan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan petani sehari-hari.
Perempuan Jadi Kunci Menjaga Lingkungan Pertanian
Pendekatan ekofeminisme yang menjadi dasar Model SILViE menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Para petani perempuan dinilai tidak hanya berperan di lahan pertanian, tetapi juga menjadi penjaga kesehatan keluarga dan pengelola lingkungan di rumah tangga.
“Selama ini kami pakai pestisida ya sekadar ikut kebiasaan,” ujar salah seorang anggota KWT.
Pernyataan itu menggambarkan kondisi yang umum terjadi di kalangan petani, yakni penggunaan pestisida tanpa pemahaman memadai mengenai dampak kesehatan maupun lingkungan.
Penyuluhan Tekankan Keselamatan Kerja Pertanian
Diskusi berlangsung interaktif dengan mengajak peserta mengevaluasi kebiasaan mereka selama bertani. Mulai dari menyemprot tanpas masker, mencampur bahan kimia tanpa ukuran pasti, hingga penggunaan pestisida secara berlebihan.
Melalui pendekatan agriculture safety atau keselamatan kerja pertanian, para peserta mulai memahami pentingnya melindungi diri saat bekerja di lahan.
Silvia menjelaskan bahwa dampak pestisida tidak hanya dirasakan tubuh manusia, tetapi juga mempengaruhi kualitas tanah. Penggunaan berlebihan dapat mengurangi keseimbangan alami tanah dan berpotesi menunurunkan kesuburan dalam jangka panjang.
Penyuluh pertanian Sunaryo menilai Model SILViE menghadirkan cara baru dalam penyuluhan karena menghubungkan isu kesehatan, lingkungan, dan peran perempuan dalam satu pendekatan yang mudah dipahami petani.
Sebagai bagian dari diseminasi, kegiatan ini juga dilengkapi media edukasi berupa poster di sejumlah titik strategis. Selain itu, Silvia membagikan buku panduan bagi penyuluh pertanian untuk mendukung implementasi di lapangan.
Materi bertajuk ‘Ekofeminisme Pertanian Minangkabau’ turut diperkenalkan sebagai upaya menggabungkan nilai budaya lokal dengan pendekatan kesehatan lingkungan dan keselamatan kerja.
Diharapkan Bisa Diterapkan Lebih Luas
Model SIlViE diharapkan dapat menjadi strategi intervensi kesehatan lingkungan berbasis komunitas yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi di sektor pertanian tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi modern, tetapi juga bisa lahir dari perubahan kesadaran, pengalaman komunitas, dan keterlibatan perempuan sebagai penggerak utama.
Melalui langkah sederhana namun berkelanjutan, model ini diharapkan mampu mendukung perlindungan petani sekaligus menjaga keberlanjutan pertanian untuk generasi mendatang.
(NY)
Sumber
https://rri.co.id/bukittinggi/iptek/2395328/model-silvie-menguatkan-kesadaran-petani-hadapi-risiko-pestisida