Hutan Mangrove & Gambut Indonesia Bisa Jadi Kunci Tekan Emisi Karbon Global

Pesisir 14 Apr 2026 44 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews — Di kawasan tropis seperti Indonesia, jajaran pohon mangrove dengan akar yang menjalar ke dalam lumpur menjadi pemandangan khas di wilayah pesisir. Sementara di daratan, hamparan gambut membentang luas dan membentuk lanskap yang tenang. Kedua ekosistem ini nyatanya tidak hanya memperkaya bentang alam. Hutan mangrove dan lahan gambut memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim. Keduanya mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.

Presiden Terpilih Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-26, Alok Sharma, bahkan menyebut Indonesia sebagai negara super power dalam penanggulangan perubahan iklim. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Indonesia merupakan negara dengan hutan mangrove terluas di dunia, yaitu mencapai 3,2 juta hektare atau hampir 25% dari total dunia. Dari lahan mangrove yang luas, Indonesia punya potensi untuk menyimpan sepertiga cadangan karbon pesisir dunia.

Indonesia juga memiliki ekosistem gambut tropis terluas di dunia, yaitu sekitar 13,4 juta hektare. Lahan gambut ini mampu menyimpan lebih dari 2.700 ton karbon per hektare. Besarnya kapasitas penyimpanan karbon tersebut membuat Indonesia memiliki pengaruh signifikan terhadap keseimbangan karbon global.

Degradasi Mangrove dan Gambut di Indonesia

Namun di balik potensinya tersebut, ekosistem mangrove dan gambut di Indonesia terus berkurang. Laporan Strategi Nasional Pengelolaan Lahan Basah: Sistem Gambut dan Mangrove yang diterbitkan Kementerian PPN/Bappenas tahun pada 2023 mengungkapkan kondisi yang mengkhawatirkan. Dalam kurun 2010–2019, Indonesia telah kehilangan lebih dari 190 ribu hektare tutupan hutan mangrove. Pada periode yang sama, sekitar 1,82 juta hektare hutan di lahan gambut juga hilang akibat alih fungsi lahan untuk aktivitas ekonomi.

Degradasi tersebut berdampak langsung pada peningkatan emisi karbon. Kerusakan mangrove Indonesia menyumbang sekitar 42 persen emisi tahunan dari ekosistem pesisir. Jika dibiarkan, pelepasan karbon ini akan mempercepat laju perubahan iklim dan memperparah krisis lingkungan global.

Konservasi dan Restorasi Ekosistem Mangrove dan Gambut

Upaya konservasi serta restorasi lahan gambut dan mangrove merupakan kunci penting bagi stabilitas iklim Bumi dalam jangka panjang. Kedua ekosistem ini mampu memperlambat proses pembusukan bahan organik seperti daun dan ranting, serta mengikat karbon dalam tanah. Peneliti memperkirakan, lebih dari 90 persen cadangan karbon berada di bawah tanah, bukan pada vegetasi. Dengan karakteristiknya, lahan gambut dan hutan mangrove menjadi penyerap karbon alami paling efisien. 

Lebih lanjut, studi menunjukkan konservasi dan restorasi mampu mencegah emisi sekitar 770±97 MtCO2e per tahun. Angka ini setara dengan lebih dari setengah emisi penggunaan lahan di Asia Tenggara. Selain menekan emisi, upaya ini juga mampu menjaga keanekaragaman hayati dan meningkatkan kualitas air. Kawasan pesisir pun lebih terlindungi dari abrasi dan gelombang ekstrem. Di sisi lain, ekosistem mangrove dan gambut menjadi penopang ketahanan pangan serta menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir.

Tantangan di Balik Upaya Restorasi

Alih fungsi lahan mangrove dan gambut di Indonesia berlangsung pesat seiring dorongan ekonomi dan kebijakan pembangunan. Kawasan pesisir dan rawa banyak dikonversi menjadi tambak, perkebunan, dan pemukiman. Di sisi lain, persoalan tata kelola lahan masih menjadi hambatan utama. Kepemilikan lahan yang tumpang tindih dan batas wilayah yang tidak jelas menyulitkan upaya perlindungan. Minimnya pemantauan jangka panjang juga memperlemah efektivitas restorasi. Kondisi ini membuat perlindungan hutan mangrove dan gambut belum berjalan optimal di banyak wilayah.

Meski demikian, pemerintah Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi sektor kehutanan hingga 500–729 MtCO2e pada 2030. Angka ini sejalan dengan potensi konservasi dan restorasi ekosistem lahan basah. Perlindungan hutan mangrove menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Namun, upaya ini tidak bisa berdiri sendiri. Pengurangan emisi dari sektor energi tetap menjadi kunci utama. Tanpa langkah menyeluruh, tekanan terhadap iklim global akan terus meningkat.

(KP/NY)

Sumber

https://indonesia.wetlands.org/id/blog/lahan-basah-mangrove-dan-gambut-sebagai-penopang-utama-perwujudan-asta-cita-presiden-wakil-presiden-indonesia-terpilih-2024-2029/
https://lcdi-indonesia.id/wp-content/uploads/2023/01/Strategi-Nasional-Pengelolaan-Lahan-Basah_EDIT-21-Jan-2023.pdf
https://theconversation.com/lahan-gambut-dan-mangrove-adalah-ekosistem-kaya-karbon-yang-harus-dilindungi-untuk-mitigasi-perubahan-iklim-250261