BRIN Nilai Giant Sea Wall Bukan Solusi Jangka Panjang untuk Selamatkan Pesisir Jawa

Pesisir 11 Feb 2026 15 kali dibaca
Gambar Artikel Proses pembangunan giant sea wall | Sumber foto: Dinas SDA DKI Jakarta

LingkariNews – Perubahan iklim dan penurunan muka tanah kini menjadi ancaman serius bagi kawasan pesisir Pulau Jawa, terutama di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura). Risiko banjir rob, abrasi, hingga tenggelamnya permukiman semakin meningkat seiring naiknya muka air laut dan kondisi tanah pesisir yang kian rapuh.  

Di tengah kondisi tersebut, pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa justru dinilai bukan solusi jangka panjang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pendekatan berbasis alam jauh lebih nyata dan berkelanjutan untuk melindungi masyarakat pesisir. 

Giant Sea Wall Berisiko Mempercepat Penurunan Tanah Pesisir Jawa

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah pesisir Jakarta dan Pantura tersusun atas tanah aluvial yang bersifat lunak dan mudah mengalami penurunan. 

Menurutnya, stuktur beton raksasa seperti giant sea wall akan memberikan tekanan besar pada tanah pesisir yang sudah lemah. Dalam jangka waktu tertentu, beban tersebut berpotensi membuat tanggul ikut turun sehingga ketinggiannya kembali sejajar dengan muka laut. 

Giant sea wall seberat itu sudah tepat engga sih? Tanahnya aluvial, lembek, tanahnya landai dikasi beban begitu saya yakin engga ada 10 tahun itu (tanggul) akan sama nanti tingginya dengan laut,” ungkap Eddy dikutip dari Kompas.com

Kondisi ini menyebabkan efektivitas giant sea wall sebagai pengendali banjir rob menjadi sangat terbatas. Alih-alih melindungi kawasan pesisir Jawa, pembangunan fisik berskala besar justru dapat mempercepat degradasi lingkungan pesisir. 

Meski demikian, Eddy menyebut tidak semua kawasan pesisir memiliki karakter yang sama. Wilayah Pantai Indah Kapuk (PIK), misalnya, dikembangkan dengan rekayasa teknik dan pengendalian tata ruang yang lebih matang, sehingga risikonya relatif lebih terkendali dibanding kawasan pesisir lain di Pantura. 

BRIN Dorong Solusi Berbasis Alam untuk Lindungi Pantura

BRIN menilai penanganan banjir rob di pesisir Jawa dan Pantura perlu bergeser ke pendekatan yang lebih berkelanjutan. Salah satu langkah utama adalah mengembalikan fungsi alami pesisir sebagai pelindung daratan. 

Penanaman mangrove dinilai efektif sebagai pemecah gelombang alami. Vegetasi mangrove mampu meredam energi gelombang laut secara bertahap melalui sistem lapisan tanaman, sehingga ombak tidak langsung menghantam daratan. 

Selain mangrove, penerapan sistem alami seperti main loop dan pemecah gelombang berbasis ekosistem dinilai dapat mengurangi tekanan laut tanpa menambah beban pada tanah pesisir. Pendekatan ini dianggap lebih realistis dibanding membangun giant sea wall di wilayah dengan kondisi tanah yang rentan.

Perubahan Iklim Perparah Ancaman Pesisir Jawa 

Ancaman terhadap pesisir Jawa tidak hanya berasal dair penurunan tanah, tetapi juga dari dampak perubahan iklim global. Eddy menyebut ada tiga tekanan utama yang kini semakin terasa, yaitu kenaikan muka laut, pengasaman laut, dan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem. 

Fenomena baru seperti siklon tropis juga mengancam wilayah yang sebelumnya relatif aman dari badai besar. Dalam dua hingga tiga dekade terakhir, kejadian cuaca ekstrem ini semakin sering muncul dan meningkatkan risiko bencana di kawasan pesisir, termasuk Pantura. 

“Jadi ada serangan baru namanya tropical cyclone (siklon tropis), ini merupakan ancaman baru. 20 – 30 tahun kita enggak mengenal tropical cyclone, enggak mengenal badai, kita bebas dari siklon tropos,” jelas Eddy.

Untuk jangka panjang, BRIN menekankan pentingnya relokasi permukiman menjauh dari garis pantai, meninggikan area hunian yang aman, serta menghentikan eksploitasi lahan pesisir – terutama di atas lahan gambut yang rentan  mengalami penurunan tanah.

Pendekatan berbasis alam melalui rehabilitasi mangrove, pengendalian pembangunan, dan tata ruang pesisir yang ketat dinilai menjadi kunci perlindungan pesisir Jawa dan Pantura, dibanding mengandalkan giant sea wall sebagai solusi tunggal. 

(NY)

 

Sumber

https://lestari.kompas.com/read/2026/02/04/192100386/banjir-rob-tak-cukup-dengan-bangun-giant-sea-wall-brin-ungkap-risikonya

https://daerah.sindonews.com/read/1673589/174/brin-giant-sea-wall-terlalu-berat-malah-bisa-tenggelamkan-pesisir-jawa-1770217335/5