TREN HARGA GULA DUNIA KUARTAL I/2026: Turun Tajam di Awal Tahun, Berbalik Menguat pada Maret 2026

Gula 02 Apr 2026 121 kali dibaca
Gambar Artikel

LingkariNews – Harga gula dunia yang sempat tertekan dalam di awal tahun ini mulai menunjukkan penguatan pada Maret 2026. Berdasarkan data perdagangan gula global yang dihimpun lingkarinews, harga gula mentah sempat turun dari sekitar 15 sen/pon pada 1 Januari 2026 menjadi 13,4 sen/pon pada pertengahan Februari, menunjukkan pelemahan hampir 10% dalam satu bulan pertama tahun ini.

Data menunjukkan tren pelemahan harga gula dunia terus berlanjut pada Februari 2026, dengan rata-rata gula diperdagangkan di bawah 14 sen per pon. Pelemahan harga mencapai titik terendahnya pada 17 Februari, di mana harga raw sugar mencapai 13,47 sen/pon.

Tekanan harga tidak hanya terjadi pada pasar raw sugar, tetapi juga pada white sugar yang diperdagangkan di pasar London. Harga white sugar tercatat sekitar 427 dolar AS per ton pada awal Januari, sebelum turun hingga kisaran 397 dolar AS per ton pada pertengahan Februari. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terjadi secara luas di pasar gula global

Kendati demikian, memasuki Maret 2026, harga gula dunia berbalik arah. Di awal bulan, harga raw sugar bergerak naik dari level 13,9 sen/pon dan terus menunjukkan peningkatan. Kenaikan tajam mulai terlihat pada pertengahan Maret Ketika harga melonjak dari 14,8 sen/pon pada 18 Maret, menjadi sekitar 15,7 sen/pon pada 20 Maret.

Ketua Umum Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) Syukur Iwantoro menilai pergerakan harga gula dunia pada akhir kuartal pertama tahun ini menunjukkan perubahan sentimen pasar global, yang tidak terlepas dari dinamika pasokan dan ekspektasi produksi di negara-negara produsen gula utama.

“Pergerakan harga gula dunia pada awal tahun dipengaruhi oleh ekspektasi di negara produsen utama, di mana Brasil sempat diperkirakan akan tetap memproduksi gula dalam volume besar, diikuti oleh India. Ekspektasi pasokan global tersebut memberikan tekanan terhadap harga,” ungkap Syukur di Jakarta, Senin (2/4).

Syukur menggarisbawahi pasar gula global telah memasuki fase konsolidasi dengan harga di atas 15 sen/pon, yang menunjukkan adanya perubahan sentimen pasar terhadap pasokan global. Selain itu, faktor lain juga mempengaruhi dinamika pasar global seperti kondisi cuaca, kebijakan perdagangan, situasi politik global, dan pergerakan harga energi.

Dampak Bagi Indonesia 

Fluktuasi harga gula global berdampak langsung bagi Indonesia, sebagai salah satu negara pengimpor gula. Penurunan harga pada awal tahun memberikan ruang penyesuaian harga pada pasar domestik, sementara kenaikan pada Maret mengindikasikan pemerintah tetap perlu mengantisipasi volatilitas pasar global, terutama untuk menjamin ketersediaan pasokan gula sebagai bahan baku industri.

Ketua Umum Gapgindo Syukur Iwantoro mengatakan bahwa hingga saat ini kebutuhan gula industri masih sepenuhnya bergantung pada impor gula mentah. “Padahal, industri gula dalam negeri sebenarnya memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut baik melalui produksi gula berkualitas industri maupun sebagai substitusi impor,” ungkap Syukur.

Untuk itu, diperlukan dukungan kebijakan yang konsisten serta iklim usaha yang kondusif guna mendorong pengembangan pabrik gula modern berbasis tebu dan petani mitranya, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Pergerakan Harga Gula Mentah Global - Kuartal I/2026

 

Pergerakan Harga Gula Putih Global - Kuartal I/2026

(DAZ/NY)