LingkariNews — Sejumlah daerah di Sulawesi dilanda banjir bandang dan tanah longsor dalam satu bulan terakhir. Rentetan bencana yang terjadi disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi sepanjang bulan Mei. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, tingginya intensitas hujan disebabkan oleh Siklon Tropis Jangmi yang berada di utara Papua, dekat Filipina.
Dinamika atmosfer di Indonesia bagian utara juga turut menyebabkan cuaca ekstrim di wilayah tersebut. Aktivitas Gelombang Rossby, Gelombang Kelvin, dan Madden-Julian Oscillation memperkuat pertumbuhan awan hujan sehingga meningkatkan peluang hujan lebat di berbagai wilayah Sulawesi.
Banjir Merendam Manado dan Kabupaten Bolaang Mongondow
Di Sulawesi Utara, banjir bandang merendam sejumlah wilayah di Manado dan Kabupaten Bolaang Mongondow. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 468 rumah di Manado terendam banjir. Kondisi ini memaksa 314 kepala keluarga atau 968 jiwa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Hujan lebat juga menyebabkan Sungai Botuk di Kabupaten Bolaang Mongondow meluap dan merendam 5 desa dengan ketinggian mencapai 1 hingga 1,5 meter. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 134 rumah terendam. Akibatnya, 181 kepala keluarga atau 601 jiwa terdampak. Selain rumah warga, bajir juga merendam sejumlah fasilitas umum meliputi sekolah, masjid, puskesmas, dan kantor desa.
Banjir Rusak Permukiman dan Infrastruktur di Gorontalo
Intensitas hujan yang tinggi juga menyebabkan banjir bandang di sejumlah wilayah di Gorontalo. Sebanyak tiga rumah dilaporkan hanyut, sementara 20 rumah mengalami rusak berat. Total 724 rumah terendam dan 3.524 jiwa terdampak. Bencana ini juga membuat separuh badan Jalan Trans Sulawesi di Desa Bakti, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, amblas. Akibat skala banjir yang besar, Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara menetapkan status tanggap darurat sejak Selasa (26/5) hingga Rabu (24/6).
Banjir bandang juga terjadi di Kabupaten Bone Bolango pada Selasa (26/5). Bencana ini turut memicu tanah longsor di wilayah pesisir Desa Muara Bone, Kecamatan Bone. Sedikitnya 35 rumah warga terendam. Selain itu, satu rumah dilaporkan hancur total dan hanyut terbawa arus bercampur lumpur serta material banjir.
Saat ini, genangan air telah surut di sejumlah lokasi terdampak. Namun, BPBD masih melakukan asesmen pascabencana dan pembersihan lingkungan bersama lintas sektor. Penyaluran bantuan makanan siap saji kepada warga terdampak juga terus dilakukan. Langkah ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa pemulihan berlangsung.
Luwu Utara Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir
Banjir bandang juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pada Rabu (13/5). Data BNPB mencatat sebanyak 3.685 kepala keluarga atau 13.114 jiwa terdampak bencana. Sementara itu, 408 warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam dan tidak lagi layak ditempati. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara sempat menetapkan status tanggap darurat bencana hingga Selasa (16/6).
Banjir Rendam Poso dan Parigi Moutong
Hujan deras juga memicu Sungai Betalemba di Desa Betalemba, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso meluap. Akibatnya, 25 kepala keluarga terdampak.
Banjir juga melanda Kabupaten Parigi Moutong pada Senin (25/5). Genangan air merendam persawahan, empang, dan permukiman warga di Desa Sibalago, Desa Tolai, serta Desa Balinggi Jati. Tercatat 30 rumah terendam banjir. Bencana ini turut memutus akses antarwilayah setelah jalan penghubung desa ikut terendam akibat banjir bandang.
BMKG Minta Warga Tetap Waspada
BMKG melaporkan bahwa saat ini Siklon Tropis Jangmi mulai bergerak menjauhi Indonesia ke arah barat. Meski demikian, masyarakat di 10 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara dihimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana dalam beberapa hari ke depan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Sam Ratulangi Manado, Dhira Utama, mengatakan pada Sabtu (30/5/2026) bahwa pengaruh siklon masih terasa di Sulawesi Utara, meski intensitasnya mulai menurun. Sejumlah wilayah diperkirakan masih mengalami hujan ringan hingga sedang. Kondisi ini tetap perlu dicermati karena berpotensi memicu banjir bandang dan gangguan hidrometeorologi lainnya.
(KP/NY)