Mangrove, Garda Terdepan dalam Perang Melawan Perubahan Iklim

Pesisir 09 Jun 2026 30 kali dibaca
Gambar Artikel Ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar, namun kenaikan muka air laut berpotensi memengaruhi kemampuan penyimpanan karbon tersebut di masa depan.

LingkariNews — Di tengah semakin nyatanya dampak perubahan iklim global, hutan mangrove muncul sebagai salah satu benteng pertahanan alam yang paling efektif bagi kehidupan manusia. Ekosistem yang tumbuh di wilayah pesisir dan muara sungai ini tidak hanya melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang badai, tetapi juga menjadi salah satu penyerap karbon terbesar di planet ini.

Namun, masa depan mangrove tidak sepenuhnya aman. Penelitian terbaru menunjukkan perubahan iklim yang selama ini dilawan oleh mangrove justru berpotensi merusak kemampuan ekosistem tersebut dalam menjalankan fungsi vitalnya.

Temuan penting ini diungkapkan lewat penelitian berskala internasional yang terbit di jurnal ilmiah Earth’s Future yang juga diulas oleh Forbes. Riset berjudul The Importance of Scale in the Future of Mangrove Blue Carbon Under Sea-Level Rise  ini dipimpin oleh ilmuwan asal Indonesia, Arya P. Iwantoro, bersama tim peneliti dari berbagai negara.

Arya mengungkapkan skala dalam melihat kondisi mangrove itu sangat penting. Selama ini banyak orang mengira bahwa kenaikan muka air laut baik untuk mangrove karena bisa meningkatkan akumulasi sedimen dan penyimpanan karbon pada kawasan mangrove tertentu. Namun, gambaran tersebut belum tentu mencerminkan nasib seluruh hutan mangrove secara luas.

Untuk membuktikannya, Arya dan tim membuat sebuah model simulasi baru. Mereka menggabungkan berbagai data mulai dari aliran air, pergerakan lumpur, pertumbuhan pohon, hingga cara karbon disimpan.

Hasilnya menunjukkan bahwa dalam jangka pendek air laut yang naik memang bisa meningkatkan penyimpanan karbon di beberapa titik. Namun, dalam jangka panjang, kemampuan hutan mangrove untuk menyimpan karbon justru terancam menurun drastis.

“Skala pengamatan sangat penting untuk memahami masa depan karbon biru mangrove,” demikian inti temuan yang disampaikan Arya dan timnya.

Ancaman terbesar ini datang dari pemanasan global yang membuat air laut terus naik. Salah satu peneliti dalam proyek ini, Luisa Fernando Gómez Vargas menjelaskan bahwa pohon mangrove punya batas kemampuan untuk terendam air.

‘’Jika air laut naik terlalu tinggi dan membuat hutan terendam terlalui lama, pohon mangrove bisa kehilangan kemampuan bertahannya. Dalam kondisi parah, hutan mangrove bisa tenggelam dan mati’’ kata Luisa.

Jika pohon-pohon mangrove mati dan tanah lumpurnya terkikis oleh air, maka kondisi bisa berbalik 180 derajat. Mangrove yang tadinya bertugas mengunci karbon di dalam tanah selama ratusan tahun, justru akan melepas Kembali gas rumah kaca tersebut ke udara. Bahayanya, saat itu mangrove tidak lagi menjadi penyerap polusi namun justru menjadi sumber emisi baru yang dapat mempercepat pemanasan global.

(DAZ/NY)

Berita Terpopuler

1
Indonesia Penghasil Sampah Terbesar Ke-5 Dunia: Produksi dan Jenis-Jenisnya
2
Kepolisian Ungkap Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun
3
Perkembangan Industri Gula Tahun 2020 hingga 2025
4
Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatera: Bencana Alam atau Kerusakan Alam?
5
Indonesia Penyumbang Sampah Laut Terbesar Kedua Dunia

Grafik Harga Gula

Raw Sugar: -
-
White Sugar: -
-
White Sugar: -
-